KALTARAUPDATE.COM – Perkembangan digitalisasi sistem pembayaran di Kalimantan Utara terus menunjukkan tren positif. Hal itu tercermin dari meningkatnya jumlah merchant maupun pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Kalimantan Utara dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik mengatakan, dari sisi merchant, jumlah merchant QRIS di Kalimantan Utara terus meningkat hingga mencapai sekitar 112 ribu merchant pada 2025.
“Kemudian dari sisi merchant, jumlah merchant QRIS di Kalimantan terus meningkat, mencapai 112.000 merchant di 2026. Kalau kita perhatikan nih angkanya dekat dengan penggunanya nih,” ujar Hasiando Ginsar Manik.
Ia menjelaskan, jumlah merchant tersebut hampir mendekati jumlah pengguna QRIS di Kalimantan Utara. Namun demikian, data pengguna yang tercatat merupakan masyarakat yang memang ber-KTP Kalimantan Utara.
“Kalau pengguna itu artinya ber-KTP Kalimantan Utara ya, jadi kalau saya ber-KTP DKI, misalkan ketika menggunakan di Kalimantan Utara, itu nggak tercatat,” katanya.
Karena itu, lanjut Hasiando, angka pengguna QRIS di Kaltara yang mencapai sekitar 131 ribu orang benar-benar merepresentasikan masyarakat ber-KTP Kalimantan Utara yang menggunakan QRIS dalam aktivitas transaksi sehari-hari.
“Jadi ini 131.000 itu ya orang Kalimantan ber-KTP Kalimantan Utara yang menggunakan QRIS,” jelasnya.
Secara umum, perkembangan merchant QRIS di Kaltara menunjukkan tren peningkatan sepanjang periode 2023 hingga 2025. Pada tahun 2025, jumlah merchant QRIS tercatat mencapai sekitar 112 ribu merchant dengan pertumbuhan sebesar 18 persen secara year on year (YoY).
Berdasarkan data BI Kaltara, persebaran merchant QRIS masih didominasi wilayah perkotaan dan pusat aktivitas ekonomi. Kota Tarakan menjadi daerah dengan jumlah merchant QRIS terbanyak di Kalimantan Utara, yakni mencapai 47.239 merchant.

Selain menjadi wilayah dengan jumlah merchant terbesar, Tarakan juga memiliki tingkat kepadatan merchant paling tinggi dibanding daerah lainnya, yakni sekitar 179,56 merchant per kilometer persegi. Tingginya kepadatan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi dan transaksi digital di Tarakan berkembang sangat pesat.
Sementara itu, Kabupaten Bulungan tercatat memiliki 28.139 merchant dengan tingkat kepadatan sekitar 1,96 merchant per kilometer persegi. Kabupaten Nunukan memiliki 27.932 merchant dengan kepadatan sekitar 2,07 merchant per kilometer persegi.
Adapun Kabupaten Malinau memiliki 9.793 merchant QRIS dengan kepadatan sekitar 0,24 merchant per kilometer persegi. Sedangkan Kabupaten Tana Tidung menjadi wilayah dengan jumlah merchant paling sedikit, yakni sebanyak 3.369 merchant dengan tingkat kepadatan sekitar 0,88 merchant per kilometer persegi.
Menurut Hasiando, jika melihat tren pertumbuhan merchant QRIS Kalimantan Utara periode 2023 hingga 2026, jumlah merchant mengalami peningkatan secara bertahap di setiap triwulan.
Pada awal tahun 2023, jumlah merchant QRIS masih berada di kisaran 50 ribu merchant. Namun pertumbuhan meningkat cukup signifikan pada triwulan II hingga triwulan III 2023 dengan laju pertumbuhan quarter to quarter (qtq) mencapai lebih dari 20 persen.
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak pelaku usaha, khususnya UMKM, mulai memanfaatkan QRIS sebagai sarana pembayaran non tunai.
Memasuki tahun 2024, jumlah merchant terus bertambah secara konsisten hingga mendekati 80 ribu merchant pada akhir tahun. Pertumbuhan qtq juga cenderung stabil di kisaran satu digit, yang menunjukkan fase pertumbuhan semakin matang namun tetap positif.
Pada tahun 2025, pertumbuhan merchant QRIS kembali mengalami peningkatan signifikan. Meski sempat mengalami perlambatan bahkan kontraksi pada triwulan II 2025, jumlah merchant kembali melonjak pada triwulan III dan IV 2025 hingga mencapai sekitar 112 ribu merchant.
Sementara pada awal tahun 2026, jumlah merchant masih menunjukkan tren meningkat meskipun laju pertumbuhannya mulai melandai dibandingkan periode sebelumnya.
“Kalau kita lihat ini juga ada jarak spasial, sebarannya, seperti apa, dan seluruhnya,” kata Hasiando.
Ia juga meminta agar data perkembangan terbaru QRIS baik dari sisi pengguna maupun merchant dapat terus diperbarui hingga posisi terkini.
“Dan mungkin nanti bisa dilengkapi teman-teman ya, posisinya ini kan akhir tahun, kalau bisa nanti akhir April sudah ada ya, baik dari sisi pengguna QRIS maupun dari merchant harusnya sudah ada,” ujarnya.
Selain pertumbuhan merchant, transaksi QRIS di Kalimantan Utara juga mengalami lonjakan sangat tinggi. Dari sisi volume transaksi, pertumbuhannya tercatat mencapai 408 persen dengan total transaksi sebanyak 21,5 juta transaksi.
“Kemudian juga di sini kita lihat dari sisi volume transaksi itu tumbuhnya 408%, mencapai 21,5 juta transaksi,” katanya.
Menurut Hasiando, peningkatan volume transaksi tersebut menunjukkan masyarakat semakin sering menggunakan QRIS dalam berbagai aktivitas pembayaran.
“Jadi semakin sering dia yang menggunakan QRIS ya, frekuensi transaksi, volume, ya itu jadi seberapa sering naik 408 persen berarti naik 4 kali lipatnya,” jelasnya.
Tidak hanya dari sisi frekuensi transaksi, peningkatan juga terlihat dari nominal transaksi QRIS di Kalimantan Utara. Hingga tahun 2024, nominal transaksi QRIS tercatat mencapai Rp2,4 triliun dengan pertumbuhan sebesar 266 persen.
“Dengan nominal transaksi Rp2,4 triliun, tumbuhnya 266% di tahun 2024. Jadi semakin sering dia yang menggunakan QRIS, dia ketuh semakin sering, semakin banyak orangnya, secara nilai juga semakin meningkat,” pungkasnya.
Bank Indonesia menilai perkembangan tersebut menjadi indikator positif meningkatnya literasi dan inklusi keuangan digital masyarakat Kalimantan Utara. Selain itu, pertumbuhan merchant dan transaksi QRIS juga menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan transaksi non tunai di berbagai sektor usaha, khususnya UMKM.
Ke depan, potensi pengembangan merchant QRIS di Kalimantan Utara dinilai masih sangat besar, terutama di daerah yang tingkat kepadatan merchant-nya masih rendah seperti Malinau dan Tana Tidung.

















Discussion about this post