KALTARAUPDATE.COM– Upaya mempercepat ekspor komoditas unggulan Kalimantan Utara terus didorong melalui kolaborasi lintas sektor. Kegiatan akselerasi ekspor yang digelar di Bandara Juwata Tarakan, Rabu (28/4/2026), menjadi momentum untuk membuka jalur ekspor langsung dari daerah tanpa harus bergantung pada kota lain.
Anggota DPR RI Dapil Kaltara, Hasan Saleh, menilai langkah ini sebagai terobosan penting dalam menjawab persoalan klasik panjangnya rantai distribusi ekspor dari Kalimantan Utara.
“Yang selama ini dianggap jalan di tempat, semoga kegiatan ini ke depannya dapat membantu meningkatkan nilai tambah, daya saing, dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Utara,” ujar Hasan Saleh.
Ia menjelaskan, selama ini proses ekspor komoditas dari Kaltara harus melalui daerah lain seperti Makassar hingga Surabaya sebelum akhirnya dikirim ke luar negeri. Kondisi tersebut dinilai tidak efisien karena memakan waktu hingga berminggu-minggu.
“Bayangkan selama ini, kalau ada barang mau diekspor, dari sini kirim Makassar. Kemudian dari Makassar kirim Surabaya. Alurnya panjang, bahkan bisa berminggu-minggu baru sampai ke Hongkong,” jelasnya.
Dengan adanya peluang ekspor langsung dari Tarakan ke negara tujuan, menurutnya, hal ini akan memangkas waktu distribusi sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.
Hasan Saleh juga menegaskan komitmen pihak legislatif dalam mendukung program tersebut, baik dari sisi anggaran, regulasi, maupun pengawasan.
“Fungsi kami legislatif akan saya curahkan sepenuhnya untuk mendukung kebijakan yang ada,” tegasnya.
Ia bahkan berencana mengundang para pelaku usaha, khususnya petambak, untuk menyosialisasikan peluang ekspor langsung tersebut, mengingat potensi komoditas Kaltara seperti kepiting dinilai sangat besar.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara, Ichi Langlang Buana, menegaskan bahwa keberhasilan ekspor tidak lepas dari peran karantina dalam menjamin kualitas dan keamanan komoditas.
Menurutnya, karantina memiliki posisi strategis dalam sistem perdagangan internasional, terutama dalam memastikan produk yang dikirim telah memenuhi standar yang berlaku.
“Ketika kita bicara ekspor, maka yang utama adalah memastikan komoditas tersebut aman, sesuai standar, dan memenuhi ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Ia menjelaskan, standar internasional seperti Sanitary and Phytosanitary (SPS) menjadi acuan utama dalam perdagangan global, sehingga setiap komoditas yang keluar dari Kaltara wajib memenuhi ketentuan tersebut.
“Standar SPS ini menjadi dasar dalam perdagangan global. Jadi komoditas yang keluar dari Kaltara harus memenuhi ketentuan tersebut agar bisa diterima di negara tujuan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ichi menekankan pentingnya sinergi antarinstansi dalam mendukung kelancaran ekspor. Pihaknya juga terus berupaya meningkatkan pelayanan yang transparan, cepat, dan akuntabel bagi pelaku usaha.
“Kami membuka diri. Pelayanan harus transparan, cepat, dan akuntabel,” katanya.
Dalam mendukung akselerasi ekspor, BKHIT Kaltara telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari Bea Cukai, otoritas bandara, hingga stakeholder lainnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa peluang ekspor langsung dari Tarakan ke sejumlah negara, termasuk China, mulai terbuka dan diharapkan segera terealisasi.
“Kita ingin ke depan ekspor tidak lagi harus melalui daerah lain. Dari Tarakan bisa langsung. Ini memang butuh proses, tapi kita optimistis dalam waktu dekat bisa terealisasi,” ungkapnya.
Kegiatan ini turut dihadiri berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, instansi vertikal, hingga pelaku usaha. Di akhir acara, dilakukan penandatanganan kerja sama serta pemberian penghargaan kepada pelaku usaha sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekosistem ekspor di Kalimantan Utara.
Melalui langkah ini, diharapkan potensi besar sumber daya alam Kaltara dapat dimaksimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


















Discussion about this post