KALTARAUPDATE.COM – Persoalan sampah menjadi perhatian serius Pemerintah Kelurahan Lingkas Ujung, Kota Tarakan. Tidak hanya berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, kelurahan juga mulai menyiapkan konsep pengelolaan sampah plastik bernilai ekonomi melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
Sekretaris Kelurahan (Seklur) Lingkas Ujung, Edy Warsono mengatakan pengelolaan sampah menjadi salah satu alasan pihaknya akan mengoptimalkan peran Karang Taruna, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), serta Institusi Sosial Masyarakat (ISM) dalam berbagai program pemberdayaan warga.
Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak hanya menyasar sektor lingkungan, tetapi juga dikembangkan ke bidang perikanan, peternakan, hingga peningkatan ekonomi masyarakat.
“Untuk Karang Taruna, LPM dan ISM ini memang sedang kami proses. Ke depan kami ingin mereka bersama kelurahan bekerja sama memberdayakan masyarakat, baik di bidang pertanian, peternakan, perikanan maupun pengelolaan lingkungan,” ujar Edy.
Ia menjelaskan kepengurusan Karang Taruna maupun LPM di Lingkas Ujung sebenarnya sudah terbentuk. Hanya saja, program-program yang selama ini berjalan ingin ditingkatkan agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
“Pengurusnya sudah ada semua. Tahun-tahun sebelumnya juga sudah berjalan, cuma sekarang kami ingin lebih ditingkatkan lagi supaya benar-benar berdampak positif terhadap masyarakat, termasuk untuk meningkatkan perekonomian warga,” katanya.
Dalam waktu dekat, pihak kelurahan berencana menggelar pertemuan bersama pengurus Karang Taruna dan LPM untuk membahas program-program tersebut secara lebih rinci.
“Kami sudah bicara dengan Ketua LPM dan Ketua Karang Taruna. Dalam waktu dekat memang ada pertemuan untuk membahas langkah-langkah selanjutnya,” ucapnya.
Menurut Edy, gagasan itu berawal dari keprihatinannya melihat persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah di Kota Tarakan.
Ia menilai, sampah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.
“Awalnya sebenarnya dari persoalan sampah. Saya merasa miris melihat kondisi sampah. Makanya kami ingin ada solusi sehingga masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan, tetapi justru bisa mendapatkan manfaat dari sampah itu,” tuturnya.
Karena itu, Kelurahan Lingkas Ujung mulai menjajaki peluang kerja sama dengan kalangan swasta, termasuk perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Menurut Edy, dirinya telah berkomunikasi dengan sejumlah pihak yang menyatakan siap mendukung apabila konsep pengelolaan sampah tersebut telah matang.
“Saya sempat bertemu dengan beberapa pihak, termasuk membahas kemungkinan dukungan CSR. Mereka pada prinsipnya siap membantu, asalkan programnya jelas dan idenya matang,” katanya.
Edy menilai, solusi yang paling memungkinkan diterapkan di Tarakan adalah membangun sistem pengolahan sampah plastik skala besar menggunakan mesin pencacah.
Menurutnya, pengolahan dalam skala kecil tidak akan mampu menyelesaikan persoalan sampah yang volumenya terus meningkat.
“Kalau hanya skala kecil nanti mandek. Saya berpikir harus skala besar, misalnya ada mesin pencacah plastik sehingga sampah plastik bisa diolah sebelum dijual,” ujarnya.
Ia mengungkapkan telah berdiskusi dengan seorang pengusaha di Tarakan yang memiliki jaringan usaha pengolahan sampah di Surabaya.
Bahkan, pengusaha tersebut berencana mempertemukannya dengan pengelola pabrik pengolahan sampah berskala besar.
“Saya sudah tawarkan kepada salah satu pengusaha di Tarakan. Beliau bilang akan menghubungi rekannya di Surabaya yang memiliki pabrik pengolahan sampah besar. Mudah-mudahan bisa terwujud,” katanya.
Apabila kerja sama itu berhasil, masyarakat nantinya cukup mengumpulkan sampah plastik, kemudian dijual ke tempat pengolahan sehingga memperoleh tambahan penghasilan.
Menurut Edy, sampah plastik tersebut akan dicuci terlebih dahulu, kemudian dicacah menjadi bahan baku setengah jadi sebelum dikirim ke pabrik di Surabaya.
“Yang kami pikirkan bukan langsung membuat produk jadi. Cukup menghasilkan cacahan plastik sebagai barang setengah jadi. Itu sudah ada pasarnya di Surabaya,” jelasnya.
Jenis sampah yang akan diolah meliputi botol plastik, kemasan plastik hingga berbagai limbah berbahan dasar plastik lainnya.
“Semua yang berbahan dasar plastik bisa dimanfaatkan. Botol plastik, bungkus makanan dan lainnya bisa dicacah, kemudian dijual,” katanya.
Menurut Edy, sistem tersebut akan memberikan keuntungan bagi masyarakat karena sampah yang sebelumnya dibuang kini memiliki nilai jual.
“Kalau masyarakat tahu sampah itu ada nilainya, saya yakin mereka akan memilah sendiri. Karena ada uangnya,” ujarnya.
Ia mencontohkan, di sejumlah daerah seperti Bali dan Lampung, hasil olahan sampah plastik bahkan telah dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tinggi.
“Saya lihat di Bali ada meja yang dibuat dari olahan plastik. Harganya sampai Rp7 juta sampai Rp8 juta. Artinya sampah ini sebenarnya punya nilai ekonomi yang besar,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah investasi mesin pengolahan yang membutuhkan biaya cukup besar.
Karena itu, Kelurahan Lingkas Ujung lebih memilih membuka peluang kerja sama dengan investor maupun pihak swasta daripada mengandalkan anggaran pemerintah.
“Kalau ada investor yang mau membeli mesin dan mengolah di Tarakan tentu sangat bagus. Pemerintah bisa mendukung melalui kerja sama, sementara masyarakat menjadi pemasok bahan bakunya,” katanya.
Menurut Edy, keberadaan industri pengolahan sampah juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru sekaligus menambah pendapatan daerah apabila dikelola secara berkelanjutan.
“Kalau ini berjalan, manfaatnya bukan hanya lingkungan lebih bersih, tetapi juga ada perputaran ekonomi, masyarakat mendapat penghasilan, lapangan kerja terbuka dan tentu bisa memberi dampak positif bagi daerah,” pungkasnya. (Advetorial)




















Discussion about this post