KALTARAUPDATE.COM – Kelurahan Pamusian, Kota Tarakan, memastikan penyaluran bantuan pangan bagi masyarakat penerima manfaat telah selesai dilaksanakan.
Sebanyak 828 penerima bantuan di wilayah tersebut telah menerima bantuan beras yang disalurkan pemerintah.
Lurah Pamusian, Adi Aryanto, mengatakan proses penyaluran bantuan pangan sempat dilakukan dalam dua tahap karena stok beras yang dikirim dari Bulog pada awal distribusi belum memenuhi kuota yang harus disalurkan.
“Alhamdulillah untuk Kelurahan Pamusian sudah sih dua bulan, untuk dua bulan ya. Sudah-sudah kami salurkan, malah kalau nggak salah sudah kami selesai salurkan itu di awal Juni tadi sudah selesai semua,” ujarnya.
Menurut Adi, pada saat distribusi awal, jumlah bantuan yang dikirim belum sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat di Kelurahan Pamusian.
“Karena memang tadi pada saat drop dari Bulog itu nggak langsung sesuai kuota. Jadi ada yang menyusul karena mungkin stok di Bulog juga kurang seperti itu,” katanya.
Akibat kondisi tersebut, pihak kelurahan harus menunggu pengiriman tambahan dari Bulog sebelum seluruh bantuan dapat disalurkan kepada masyarakat.
“Jadi makanya setelah semua dibagikan ternyata kita nunggu yang drop lagi yang kekurangan dari Bulog. Nah makanya setelah kemarin ada stoknya Bulog sudah ada, ya sudah di drop ke sini. Kami sampaikan lagi, salurkan lagi ke penerima,” jelasnya.
Adi mengakui secara teknis penyaluran bantuan pangan di Kelurahan Pamusian akhirnya dilakukan sebanyak dua kali.
“Ya berarti kalau secara teknis dua kali, karena stoknya dari Bulog itu nggak sampai dengan kuota yang harus disalurkan,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dimiliki Kelurahan Pamusian, jumlah penerima bantuan pangan yang terdaftar mencapai 828 orang dan seluruhnya telah menerima haknya.
“Untuk Pamusian itu 828, 828 penerima sudah tersalur 828,” katanya.
Selain proses penyaluran, pihak kelurahan juga melakukan penyesuaian data penerima manfaat karena terdapat sejumlah warga yang tidak lagi memenuhi syarat atau sudah tidak berada di wilayah tersebut. Menurut Adi, jumlah penerima yang harus diganti tidak sampai 50 orang.
“Nah itu kemarin sekilas nggak sampai 50,” ujarnya.
Saat ditanya apakah jumlah tersebut mencapai 50 persen atau 50 orang, Adi menegaskan jumlahnya kurang dari 50 orang.
Ia menjelaskan terdapat beberapa alasan yang menyebabkan pergantian penerima bantuan dilakukan.
“Pengganti ini kebanyakan dari itu sudah tidak ada di sini, pindah-pindah tempat tinggal, kemudian ada mungkin sebagian yang meninggal,” ujarnya.
Menariknya, Adi mengungkapkan ada pula penerima bantuan yang secara sukarela memilih menyerahkan haknya kepada warga lain yang dianggap lebih membutuhkan.
“Dan juga ada sih mungkin beberapa karena menganggap dirinya sudah mampu ya dia serahkan ke yang lebih berhak,” katanya.
Menurutnya, keputusan tersebut muncul dari kesadaran masyarakat sendiri tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Bahkan terdapat penerima bantuan yang tetap mengambil bantuan yang menjadi haknya, namun kemudian menyerahkannya kepada tetangga yang dinilai lebih membutuhkan.
“Karena juga kalau kami temukan juga ada sih tetap dia penerima tapi berdasarkan untuk mereka, mereka serahkan ke orang. Seperti itu sih,” katanya.
Saat ditanya apakah bantuan tersebut tidak diambil oleh penerima, Adi menjelaskan bantuan tetap diterima terlebih dahulu sebelum diberikan kepada warga lain.
Menurutnya, kondisi tersebut bisa saja terjadi karena warga yang menerima bantuan merasa kondisi ekonominya lebih baik dibandingkan tetangganya yang belum masuk dalam daftar penerima manfaat.
“Bisa jadi. BNBA itu masuk dalam data yang dari Bulog itu, bisa jadi,” katanya.
Adi menjelaskan penerima bantuan pangan memang telah ditentukan berdasarkan data yang telah diverifikasi pemerintah.
“Karena untuk menjadi penerima kan harus masuk ya Pak desil berapa. Ya data desil satu sampai lima kalau tidak salah,” ujarnya.
Meski secara umum penyaluran bantuan berjalan lancar, pihak kelurahan sempat menghadapi kendala teknis saat proses verifikasi penerima di lapangan.
“Kalau pada saat penyaluran kendala sih kadang kita di jaringan ya,” katanya.
Menurut Adi, proses penyaluran bantuan mengharuskan petugas terhubung langsung dengan aplikasi pendataan sehingga kualitas jaringan internet sangat berpengaruh terhadap kelancaran pelayanan.
“Karena kan itu harus connect dengan aplikasi langsung ya,” ujarnya.
Selain jaringan, kendala juga terjadi ketika foto penerima bantuan yang diunggah ke sistem tidak sesuai dengan ketentuan sehingga tidak dapat diverifikasi.
“Kadang kalau kita fotonya tidak pas, kadang itu tidak diterima oleh sistem atau mungkin tidak diterima oleh operator,” jelasnya.
Akibatnya, petugas harus kembali menghubungi penerima bantuan untuk melakukan proses verifikasi ulang.
“Jadi paksa kita panggil ulang lagi yang bersangkutan untuk foto ulang. Seperti itu sih kadang kendalanya,” katanya.
Meski menghadapi sejumlah kendala teknis, Adi mengapresiasi sikap masyarakat yang tetap kooperatif selama proses penyaluran berlangsung.
Menurutnya, para penerima bantuan tetap datang saat dipanggil untuk proses penyaluran maupun verifikasi ulang.
Ia juga menilai kerja sama masyarakat menjadi salah satu faktor yang membuat penyaluran bantuan pangan di Kelurahan Pamusian dapat diselesaikan seluruhnya.
“Iya alhamdulillah kerja sama,” pungkasnya. (Advetorial)





















Discussion about this post