KALTARAUPDATE.COM – Kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital terus meningkat sepanjang 2025 dan menjadi salah satu faktor utama penguatan bisnis PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Kondisi tersebut terlihat dari kenaikan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan pada segmen B2C yang dikelola Telkomsel.
Dalam laporan kinerja tahun buku 2025, Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp109,2 triliun secara konsolidasian. Perseroan menyebut Average Revenue Per User (ARPU) juga mulai menunjukkan tren pemulihan positif sejak semester kedua 2025.
Pemulihan tersebut dinilai menjadi sinyal mulai stabilnya kondisi industri telekomunikasi setelah beberapa tahun menghadapi tekanan kompetisi dan perubahan perilaku pasar.
Ke depan, Telkomsel disebut akan fokus menjaga pertumbuhan ARPU melalui penyesuaian harga yang lebih tepat sasaran serta menjaga kualitas jaringan agar tingkat perpindahan pelanggan dapat ditekan.
Selain memperkuat layanan seluler, ekspansi internet rumah juga mulai dilakukan lebih selektif dengan mempertimbangkan kemampuan belanja masyarakat dan efektivitas penggunaan modal perusahaan.
Tak hanya di pasar konsumen, bisnis infrastruktur digital TelkomGroup juga menunjukkan pertumbuhan positif. Pada segmen B2B Infrastructure, Telkom mencatat pendapatan sebesar Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang ekspansi bisnis data center dan konektivitas fiber yang terus diperkuat perseroan.
Saat ini, TelkomGroup memiliki jaringan backbone serat optik lebih dari 210 ribu kilometer yang tersebar di seluruh Indonesia. Infrastruktur tersebut diperkuat layanan menara telekomunikasi, cloud, hingga konektivitas satelit untuk menjangkau wilayah blank spot dan daerah dengan tantangan geografis tinggi.
Bisnis data center juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Melalui NeutraDC, Telkom mengoperasikan dua hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, tiga enterprise data center di Serpong, Surabaya, dan Sentul, serta dua co-location data center di Singapura.
Selain itu, TelkomGroup juga memiliki 28 fasilitas edge data center NeuCentrIX yang digunakan mendukung layanan cloud dan kebutuhan data lebih dekat dengan pengguna.
Sementara pada bisnis menara telekomunikasi, Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan EBITDA margin mencapai 82,2 persen.
Perusahaan tersebut kini mengelola 40.230 menara telekomunikasi dengan rasio penyewa mencapai 1,57 kali, menjadikannya salah satu perusahaan tower terbesar di Asia Tenggara.
Di sektor internasional, TelkomGroup melalui Telin juga terus memperluas konektivitas global. Hingga kini, Telin telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional guna memperkuat layanan Wholesale dan International Service yang membukukan pendapatan Rp10,7 triliun.
Sementara pada segmen B2B ICT, Telkom mencatat pendapatan Rp15,3 triliun dari bisnis konektivitas, managed solution, dan digital service.
Meski permintaan solusi korporasi sempat terdampak kebijakan efisiensi pemerintah, Telkom tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan bisnis digital. Perseroan kini mulai memperkuat layanan berbasis Connectivity+, Cybersecurity, hingga Artificial Intelligence (AI) melalui kolaborasi dengan perusahaan teknologi global.
Untuk mendukung pengembangan infrastruktur digital tersebut, Telkom mengalokasikan belanja modal sebesar Rp27,5 triliun sepanjang 2025. Sebanyak 93 persen investasi difokuskan untuk pengembangan segmen B2C, B2B Infrastructure, dan bisnis internasional.

















Discussion about this post