KALTARAUPDATE.COM– Kinerja intermediasi perbankan di Provinsi Kalimantan Utara pada Maret 2026 menunjukkan tren yang tetap kuat di tengah perlambatan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara menilai stabilitas sistem keuangan daerah masih terjaga dengan baik, ditopang pertumbuhan kredit yang tinggi serta kualitas aset perbankan yang tetap sehat.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik menyampaikan, perkembangan intermediasi perbankan di Kaltara masih berada pada jalur positif meskipun DPK mengalami kontraksi.
“Dari sisi stabilitas sistem keuangan, kinerja intermediasi perbankan di Kalimantan Utara relatif terjaga kuat dan relatif baik, didukung pertumbuhan kredit investasi yang solid, serta kualitas aset yang tetap sehat meski pertumbuhan dana pihak ketiga mengalami kontraksi,” ujarnya.
Berdasarkan data BI Kaltara, DPK pada Maret 2026 terkontraksi sebesar 2,13 persen secara year on year (yoy). Perkembangan tersebut dipengaruhi menurunnya komponen giro sebesar 24,55 persen (yoy). Sementara itu, deposito hanya tumbuh 1,56 persen dan tabungan masih menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 8,57 persen (yoy).
Menurut Hasiando, perubahan pola penempatan dana masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perlambatan DPK di sektor perbankan.
“Penurunan dana ini bisa disebabkan karena semakin banyak alternatif masyarakat dalam menyimpan aset. Bisa dalam obligasi negara, membeli emas, saham, dan instrumen investasi lainnya,” katanya.

Ia menjelaskan, perkembangan produk investasi non-perbankan yang semakin beragam dan mudah diakses secara digital turut memengaruhi preferensi masyarakat dalam menyimpan dana.
“Sekarang produk-produk non-bank juga sudah semakin bervariasi dan mudah dijangkau karena sudah terdigitalisasi. Ada tabung emas, deposito emas, sampai cicilan emas. Itu menjadi variasi produk investasi masyarakat,” lanjutnya.
Di sisi lain, penyaluran kredit atau pembiayaan di Kaltara justru menunjukkan pertumbuhan yang sangat tinggi. Hingga Maret 2026, kredit tercatat tumbuh sebesar 75,88 persen (yoy).
Pertumbuhan tersebut ditopang seluruh jenis penggunaan kredit. Kredit modal kerja tumbuh 35,39 persen (yoy), kredit investasi melonjak hingga 168,02 persen (yoy), sedangkan kredit konsumsi tumbuh 7,04 persen (yoy).
Hasiando menilai tingginya pertumbuhan kredit investasi mencerminkan aktivitas investasi di Kaltara yang masih bergerak positif.
“Menunjukkan perkembangan yang sangat baik menurut saya. Tumbuhnya 75,88 persen didorong terutama oleh kredit investasi yang tumbuh 168,02 persen secara year on year pada posisi Maret 2026. Jadi cukup baik karena perbankan melakukan pembiayaan untuk kegiatan investasi, khususnya kredit investasi,” tegasnya.
Dari sisi sektoral, industri pengolahan menjadi sektor dengan penyaluran kredit terbesar di Kaltara. Pangsa kredit sektor tersebut mencapai 44,19 persen dengan pertumbuhan sangat tinggi sebesar 209,73 persen (yoy).
Selanjutnya, sektor rumah tangga menempati posisi kedua dengan pangsa 17,78 persen dan tumbuh sebesar 7,04 persen (yoy).
Sementara itu, kualitas kredit perbankan di Kaltara dinilai masih sangat terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross yang berada di level 0,72 persen pada Maret 2026.
“Dari sisi kualitas kredit juga cukup baik. Rasio NPL brutonya 0,72 persen, masih jauh di bawah ambang batas karena NPL itu threshold-nya di bawah 5 persen,” jelas Hasiando.
Adapun untuk penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pada Maret 2026 tercatat mengalami kontraksi sebesar 3,03 persen (yoy). Total outstanding kredit UMKM mencapai Rp5,36 triliun.
Pangsa kredit UMKM juga mengalami penurunan dari 13,07 persen pada Januari 2026 menjadi 11,16 persen pada Maret 2026. Penyaluran terbesar masih didominasi sektor perdagangan besar dan eceran dengan nominal mencapai Rp2,317 triliun.



















Discussion about this post