KALTARAUPDATE.COM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mulai menjalankan transformasi besar-besaran melalui strategi TLKM 30 sebagai langkah memperkuat fondasi bisnis dan meningkatkan daya saing industri digital nasional. Strategi tersebut menjadi fokus utama perseroan sepanjang 2025 di tengah tekanan ekonomi global dan ketatnya persaingan sektor telekomunikasi.
Direktur Utama Dian Siswarini menegaskan, transformasi menjadi langkah penting agar Telkom tetap relevan dan mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (12/5/2026).
Transformasi TLKM 30 dijalankan melalui empat pilar utama. Pilar pertama yakni Operational & Service Excellence yang difokuskan pada penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan disiplin organisasi, efisiensi proses bisnis, hingga peningkatan kualitas layanan pelanggan.
Tak hanya itu, Telkom juga mulai merampingkan bisnis non inti melalui strategi streamlining. Langkah tersebut dilakukan agar perusahaan lebih fokus mengembangkan bisnis telekomunikasi dan digital yang menjadi core business perseroan.
Salah satu implementasi strategi ini terlihat dari proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang kini memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) menuju divestasi penuh pada semester pertama 2026.
Selain perampingan bisnis, Telkom juga melakukan langkah unlocking value dengan memperkuat bisnis infrastruktur digital, khususnya konektivitas fiber. Upaya tersebut diwujudkan melalui pemisahan sebagian bisnis Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia lewat penandatanganan Conditional Spin-off Agreement (CSA) pada Desember 2025.
Menurut Telkom, langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan Return on Assets (ROA), sekaligus memperluas kontribusi perusahaan dalam mendukung konektivitas nasional.
Perseroan juga tengah menjalankan perubahan model operasi dari operating holding menjadi strategic holding. Melalui transformasi ini, Telkom akan lebih fokus pada sinergi penciptaan nilai dan penguatan tata kelola antar segmen bisnis.
Sementara operasional perusahaan nantinya dijalankan melalui empat Operating Company (OpCo), yakni segmen B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Transformasi tersebut diharapkan mampu menghilangkan tumpang tindih bisnis sekaligus memperkuat fundamental perusahaan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Telkom juga melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia. Penyesuaian tersebut berdampak pada peningkatan beban percepatan depresiasi sehingga laba bersih perseroan mengalami kontraksi 9,5 persen secara tahunan.
Meski demikian, Telkom menilai langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat tata kelola perusahaan yang lebih transparan dan disiplin dalam pengelolaan aset.
Sepanjang 2025, Telkom mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun dengan EBITDA Rp72,2 triliun. Perseroan juga membukukan Total Shareholder Return (TSR) sebesar 35,7 persen yang terdiri dari capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.
“Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi. Dengan disiplin operasional, kami semakin yakin dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang berkelanjutan,” tutup Dian.


















Discussion about this post