KALTARAUPDATE.COM – Kinerja intermediasi perbankan di Kalimantan Utara sepanjang 2025 menunjukkan geliat yang kuat.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Utara, Hasiando G. Manik, mengungkapkan pertumbuhan kredit di Kaltara tercatat melesat signifikan hingga 68,24 persen secara tahunan.
“Kalau kita lihat, pertumbuhan kredit di Kalimantan Utara relatif cukup baik di tahun 2025. Secara total tumbuh 68,24 persen, dengan NPL yang masih pada level terjaga, di bawah 5 persen,” ujar Hasiando dalam paparannya.
Ia menjelaskan, berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi menjadi motor utama pertumbuhan. Kredit investasi bahkan tumbuh sangat tinggi hingga 162,05 persen. Sementara itu, kredit modal kerja dan konsumsi juga mencatatkan pertumbuhan, meski tidak setinggi investasi.
Dari sisi kualitas, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 2,14 persen. Meski terdapat sedikit kenaikan pada segmen kredit investasi, angka tersebut masih jauh di bawah ambang batas 5 persen.
“Tentu ini harus terus dijaga oleh teman-teman perbankan supaya kualitas kreditnya tetap baik, meskipun fungsi intermediasi berjalan dengan baik juga,” tegasnya.
Tambang dan Industri Pengolahan Dominasi Kredit
Lebih lanjut, Hasiando memaparkan bahwa pertumbuhan kredit terbesar terjadi pada lapangan usaha pertambangan dan industri pengolahan. Kedua sektor tersebut menguasai pangsa kredit terbesar di Kaltara.
“Pangsanya untuk pertambangan dan industri pengolahan itu 40,12 persen dari total kredit di 2025. Itu yang terbesar,” jelasnya.
Dominasi sektor ini dinilai sejalan dengan karakteristik struktur ekonomi Kaltara yang bertumpu pada sumber daya alam dan pengolahan.
DPK Kontraksi 3,78 Persen
Di tengah pertumbuhan kredit yang tinggi, Dana Pihak Ketiga (DPK) justru mengalami perlambatan. DPK yang mencakup tabungan, giro, dan deposito tercatat terkontraksi minus 3,78 persen.
Menurut Hasiando, meskipun tabungan masih tumbuh positif, penurunan terjadi pada giro dan deposito. Hal ini menjadi perhatian, mengingat DPK merupakan sumber utama pembiayaan perbankan.
“Kalau DPK turun, lalu sumber pembiayaannya dari mana? Bisa juga berasal dari bank-bank yang berada di luar Kaltara, tetapi lokasi proyeknya di Kaltara. Itu tetap tercatat,” terangnya.
Ia juga menyinggung adanya indikasi pergeseran preferensi investasi masyarakat, khususnya pada instrumen deposito. Berdasarkan survei yang dilakukan, terdapat kecenderungan sebagian deposan mengalihkan dana ke instrumen lain seperti emas, seiring kenaikan harga yang signifikan.
“Ini menjadi salah satu alternatif investasi. Mungkin saat ini banyak yang menaruh di emas. Dari survei kami ada sedikit peralihan ke sana,” ujarnya.
Stabilitas Sistem Keuangan Tetap Terjaga
Meski terjadi kontraksi DPK, BI memastikan kondisi stabilitas sistem keuangan di Kalimantan Utara secara umum masih dalam kondisi baik dan terkendali. Intermediasi perbankan tetap berjalan optimal, ditopang kualitas kredit yang terjaga.
Selain perkembangan intermediasi perbankan, BI Kaltara juga terus melakukan berbagai upaya lain, seperti pengedaran dan distribusi uang rupiah, pencegahan peredaran uang palsu, hingga mendorong penguatan UMKM dan ekonomi syariah.
“Secara umum kondisi stabilitas sistem keuangan di Kalimantan Utara masih baik. Dua hal utama yang kami sampaikan adalah perkembangan sistem pembayaran dan intermediasi perbankan,” tutup Hasiando.
Dengan pertumbuhan kredit yang agresif namun tetap terjaga kualitasnya, sektor perbankan di Kaltara dinilai masih memiliki ruang ekspansi, terutama pada sektor-sektor produktif yang menopang struktur ekonomi daerah. (SL)




















Discussion about this post