KALTARAUPDATE.COM – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan terus memperkuat pembinaan kepribadian warga binaan melalui pendekatan keagamaan. Salah satunya dengan menggelar Dzikir Akbar setiap Jumat yang diikuti seluruh warga binaan beragama Islam.
Kegiatan yang dipusatkan di Masjid At-Taubah Lapas Tarakan itu menjadi agenda rutin pembinaan kerohanian yang dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Misbahul Munir Kota Tarakan.
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri, melalui Kepala Subseksi Pembimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan, Taufik Rowandy, mengatakan pembinaan spiritual menjadi salah satu upaya membentuk karakter warga binaan selama menjalani masa pidana.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar memenuhi hak warga binaan dalam menjalankan ibadah, tetapi juga diarahkan untuk membangun kesadaran diri dan mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
“Salah satu bentuk pembinaan kerohanian agama Islam yang kami selenggarakan adalah Dzikir Akbar di Hari Jumat. Program ini diikuti oleh seluruh WBP beragama Islam. Pelaksanaan dzikir turut didukung oleh Ust. Samsul Bahri dari Yayasan Misbahul Munir Tarakan selaku narasumber,” ujar Taufik.
Ia menjelaskan, melalui kegiatan tersebut pihaknya berharap warga binaan memiliki ketakwaan yang lebih baik sekaligus mampu mengendalikan diri selama berada di dalam lapas.
“Melalui program ini kami berharap dapat menjadi momentum dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta mampu mengurangi tingkat risiko. Hal ini secara signifikan berdampak terhadap proses penegakan keamanan dan ketertiban serta program remisi maupun integrasi narapidana,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, Dzikir Akbar diisi dengan pembacaan tasbih, tahmid, tahlil, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, hingga doa bersama memohon keberkahan, ampunan, dan keselamatan.
Program pembinaan tersebut merupakan implementasi pembinaan kepribadian sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, yang menempatkan pembinaan mental dan spiritual sebagai salah satu aspek penting dalam proses pemasyarakatan.
Melalui kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara berkesinambungan, Lapas Tarakan berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh bekal moral dan spiritual sebagai persiapan kembali ke tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa hukumannya.





















Discussion about this post