KALTARAUPDATE.COM – Kelurahan Lingkas Ujung terus memperkuat akurasi data kependudukan melalui inovasi Smart Data yang mulai diterapkan pada awal 2026. Inovasi ini memanfaatkan Google Form untuk memudahkan pembaruan data warga sekaligus membantu sinkronisasi antara data administrasi kependudukan dengan kondisi riil di lapangan.
Sekretaris Kelurahan (Seklur) Lingkas Ujung, Edy Warsono atau akrab disapa Edward mengatakan pembaruan data diperlukan karena masih banyak warga yang ber-KTP Lingkas Ujung, tetapi sudah berdomisili di wilayah lain.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat jumlah penduduk administrasi tidak selalu sama dengan jumlah warga yang benar-benar tinggal di Lingkas Ujung.
“Dari jumlah penduduk itu sebenarnya banyak juga yang sudah tinggal di luar. Ada yang domisilinya di wilayah lain, tetapi KTP-nya masih di sini. Makanya kemarin kami lakukan pendataan supaya kami tahu mana warga yang memang tinggal di Lingkas Ujung dan mana yang sudah berdomisili di tempat lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan, melalui pendataan tersebut pemerintah kelurahan dapat memisahkan data warga yang masih tinggal di Lingkas Ujung dengan warga yang sudah menetap di kawasan lain, seperti Kampung Enam, Kampung Satu maupun Kampung Empat.
“Jadi kita tahu warga kita ini sekarang tinggal di mana saja. Data itu supaya sinkron, sehingga antara jumlah warga berdasarkan administrasi dengan yang benar-benar tinggal di Lingkas Ujung bisa dibedakan,” katanya.
Selain pendataan domisili, Kelurahan Lingkas Ujung juga mewajibkan seluruh ketua RT menyampaikan laporan perkembangan penduduk secara berkala.
Menurut Edy, laporan tersebut meliputi jumlah penduduk, warga yang meninggal dunia maupun perubahan data lainnya.
“RT memang kami minta siap memberikan laporan. Setiap satu bulan sekali ada laporan jumlah penduduk, ada yang meninggal atau tidak, dan perkembangan lainnya,” ucapnya.
Untuk mempermudah proses tersebut, Kelurahan Lingkas Ujung menghadirkan inovasi Smart Data yang seluruh pengisiannya dilakukan melalui Google Form.
Edy mengatakan sistem itu dipilih karena lebih sederhana dan mudah digunakan oleh masyarakat.
“Smart Data ini supaya lebih mudah. Warga kami kan tidak semuanya langsung paham dengan teknologi. Makanya saya pakai Google Form saja,” katanya.
Melalui Smart Data, setiap data warga dicatat secara rinci berdasarkan individu.
Di dalamnya tidak hanya memuat identitas dan alamat domisili, tetapi juga informasi pekerjaan hingga riwayat penerimaan bantuan sosial.
“Di situ per individu. Kita tahu si A tinggal di mana, kerjanya di mana, kalau domisilinya di luar juga tercatat. Kemudian bantuan juga kita catat, jadi si A menerima bantuan apa saja semuanya ada di dalam data itu,” jelasnya.
Menurut Edy, saat ini Smart Data masih diterapkan khusus di Kelurahan Lingkas Ujung.Tautan Google Form telah dibagikan kepada seluruh ketua RT untuk kemudian diteruskan kepada warga melalui grup WhatsApp masing-masing.
“Sudah kami share ke grup RT. RT juga meneruskan ke grup warganya masing-masing, jadi lebih mudah. Kalau ada perubahan data tinggal diisi,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan Smart Data juga terus disosialisasikan dalam setiap kegiatan pembinaan RT yang rutin digelar.
Dalam forum tersebut, RT diingatkan agar terus memperbarui data penduduk sesuai kondisi terbaru.
“Pada saat pembinaan RT sudah kami sampaikan. Warga lama maupun warga baru wajib mengisi karena ini penting sekali,” ujarnya.
Edy mengungkapkan Smart Data mulai diterapkan sekitar triwulan pertama 2026, tidak lama setelah dirinya bertugas di Kelurahan Lingkas Ujung.
Inovasi tersebut dibuat untuk mengatasi kendala keterlambatan laporan penduduk yang selama ini masih sering terjadi.
“Karena kalau minta laporan manual setiap bulan kadang agak sulit. Ada yang terkendala pekerjaan dan sebagainya. Dengan Smart Data ini jadi lebih mudah,” katanya.
Sejauh ini, menurut Edy, sistem tersebut telah berjalan dan terus dimanfaatkan masyarakat.
Setiap hari, kata dia, selalu ada data baru yang masuk melalui notifikasi email.
“Sudah berjalan. Banyak warga yang mengisi dan setiap hari pasti bertambah karena notifikasinya masuk ke email saya,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan Smart Data juga membantu menyinkronkan data kelurahan dengan data administrasi kependudukan sehingga potensi perbedaan data dapat diminimalkan.
Salah satu contohnya terlihat saat penyaluran bantuan pangan berupa beras.
Edy mengaku pernah menemukan warga yang datang mengambil bantuan di Lingkas Ujung, padahal secara administrasi sudah resmi pindah ke Kelurahan Selumit Pantai.
“Ibu itu sebenarnya sudah pindah. Saya arahkan supaya mengambil bantuan di wilayah domisilinya yang baru. Kami harus hati-hati karena kalau sudah pindah, lebih baik disesuaikan dengan data yang terbaru,” katanya.
Menurutnya, ketelitian tersebut penting agar penyaluran bantuan tetap tepat sasaran sekaligus menghindari terjadinya penerimaan bantuan ganda akibat perbedaan data administrasi dan domisili warga. (SL)




















Discussion about this post