KALTARAUPDATE.COM – Bank Indonesia (BI) Kalimantan Utara mulai mendorong digitalisasi transaksi di sektor transportasi laut dengan menghadirkan pembayaran menggunakan QRIS pada sistem tiket di sejumlah pelabuhan.
Program tersebut menjadi bagian dari Gelombang Syiar QRIS, yang diarahkan untuk memperluas penggunaan pembayaran digital pada moda transportasi yang menjadi bagian penting mobilitas masyarakat Kaltara.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Utara, Agus Taufik, mengatakan kondisi geografis Kaltara yang terdiri dari banyak wilayah kepulauan membuat transportasi sungai dan laut memiliki peran penting dalam aktivitas masyarakat.
“Yang menarik di Kaltara, wilayahnya terdiri dari pulau-pulau. Sehingga moda transportasinya adalah moda transportasi sungai,” kata Agus.
Menurutnya, keberadaan speedboat menjadi salah satu bagian penting dalam aktivitas transportasi masyarakat Kaltara.
“Saya lihat speedboat-speedboat di sini jauh lebih bagus. Karena memang itu sebagai moda transportasi utama,” ujarnya.
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan BI Kaltara mendorong digitalisasi sistem pembayaran pada layanan transportasi tersebut.
Agus mengatakan, melalui program Gelombang Syiar QRIS, sudah terdapat empat pelabuhan di Kaltara yang sistem tiketnya didukung pembayaran menggunakan QRIS.
“Saya ada program namanya Gelombang Syiar QRIS. Sudah ada empat pelabuhan di Kaltara yang ticketing system-nya didukung dengan QRIS,” ungkap Agus.
Dengan dukungan QRIS tersebut, masyarakat yang menggunakan layanan transportasi di pelabuhan dapat melakukan pembayaran tiket secara non-tunai.
“Jadi tidak perlu cash. Cash juga boleh, tetapi QRIS juga lebih baik,” katanya.
Digitalisasi Bukan Berarti Hilangkan Uang Tunai
Meski mendorong penggunaan pembayaran digital, Agus menegaskan bahwa digitalisasi sistem pembayaran tidak berarti menghapus transaksi tunai.
Menurutnya, pelaku usaha tetap harus menerima pembayaran menggunakan uang tunai karena Rupiah dalam bentuk fisik merupakan alat pembayaran yang sah.
“Tidak boleh ada toko, teman-teman yang punya perusahaan, menolak pembayaran dengan tunai. Tidak boleh,” tegasnya.
Agus menjelaskan, keberadaan sistem pembayaran digital dan tunai dapat berjalan berdampingan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Walaupun kita sudah digitalisasi sistem pembayaran, uang tunai adalah salah satu alat pembayaran yang sah yang ditata oleh undang-undang,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak memahami program digitalisasi pembayaran sebagai upaya untuk menghilangkan transaksi tunai.
“Jangan salah persepsi seolah-olah kita mendorong digitalisasi sistem pembayaran berarti kita menolak tunai. Itu tidak boleh karena melanggar undang-undang,” tegas Agus.
Tunai dan Non-Tunai Saling Melengkapi
Agus mengatakan pembayaran tunai maupun non-tunai memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Menurutnya, pertumbuhan transaksi digital tidak serta-merta menggantikan penggunaan uang tunai.
“Bukan sifatnya menggantikan, tetapi saling melengkapi satu sama lainnya. Masing-masing cara, tunai dan non-tunai, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing,” katanya.
Ia mencontohkan pembayaran tunai masih memiliki keunggulan untuk wilayah yang belum memiliki jaringan internet maupun sinyal.
“Sebagai contoh, kalau tunai bisa dilakukan di daerah terpencil mana pun yang tidak ada sinyal,” ujarnya.
Selain itu, transaksi tunai juga memiliki aspek privasi bagi pelaku transaksi. Sementara pembayaran non-tunai menawarkan kemudahan dan efisiensi selama didukung infrastruktur yang memadai.
Untuk program Gelombang Syiar QRIS, BI Kaltara berharap digitalisasi sistem pembayaran di pelabuhan dapat terus diperluas.
Agus menyebut empat pelabuhan telah mendukung sistem ticketing menggunakan QRIS, di antaranya Tengkayu dan Kayan di Malinau serta Belungan.
“Sudah ada empat pelabuhan. Tengkayu, kemudian Kayan di Malinau. Terakhir saya ke sana, kemudian Belungan,” katanya.
BI Kaltara selanjutnya mendorong semakin banyak layanan transportasi masyarakat yang dapat terhubung dengan sistem pembayaran digital.
“Harapannya dalam waktu dekat juga sudah terdigitalisasi,” pungkasnya. (SL)



















Discussion about this post