KALTARAUPDATE.COM – Kinerja perekonomian di Kaltara terus dikebut agar bisa sampai di level nasional. Dimana analisis pada triwulan pertama, pertumbuhan ekonomi Kaltara tercatat Kaltara 5,23 persen masih berada di bawah angka nasional sebesar 5,61 persen.
Ada tantangan pertumbuhan ekonomi Kaltara yang harus ditembus sebagaimana disampaikan Kepala KPw BI Kaltara Hasiando Ginsar Manik.
Pertama, ketergantungan pada sektor pertambangan dan hasil produk raw material terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Kedua, aksesibilitas, konektivitas, dan infrastrutur antar wilayah yang terbatas.
Ketiga, infrastruktur digital yang belum merata di seluruh Kaltara.
Sehingga Hasiando menyampaikan ada peluang. Di antaranya hilirisasi industri logam dasar dan hilirisasi pangan. Lalu kedua, optimalisasi, pengembangan ekspor produk lokal Kaltara ke negara tetangga dan terakhir potensi pengembangam ekonomi digital dan inklusi keuangan.
Berdasarkan pangsanya, kata Hasiando, paling dominan adalah pertambangan. 25,81 persen. Kemudian disusul pertanian, 15,16 persen, dan perdagangan 14 persen.
“Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kalimantan Utara, karena ekonomi kita kan dipengaruhi juga oleh kinerja sektor pertambangan khususnya batubara. Yang mana dalam beberapa waktu terakhir, kita menghadapi dinamika dari sisi permintaan global. Ya, dimana permintaannya juga agak menurun,” urai Hasiando.
Sehingga ini menjadi tantangan bagaimana Kaltara bisa tetap mempertahankan ekonominya.
“Syukurnya, kita punya beberapa investasi di industri pemulahan, ya, baik itu yang berada di kawasan industri, IP, maupun industri pengolahab han pulp and paper, bisa menahan perlambatan pertumbuhan akibat kurang optimalnya kinerja sektor pertambangan.
“Nah, tentu ada beberapa tantangan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara, yaitu ketergantungan pada sektor pertambangan dan hasil produk raw material terhadap fluktuasi harga komunitas global,” terangnya.
Tambahnya lagi, tentu, walaupun memang sumbernya di Kalimantan atau Kalimantan Utara, dinamika pembangunan harga di luar dan juga dinamika permintaan dari global mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara.
Kemudian juga isu aksesibilitas, kolektivitas, dan infrastruktur antarwilayah yang masih terbatas menjadi tantangan di perekonomian Kalimantan Utara. Infrastruktur digital yang belum merata di seluruh Kalimantan Utara
“Kita rasa ini menjadi tantangan kita semua, termasuk bagi Indonesia, bagaimana agar infrastruktur digital bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat di Kalimantan Utara,” lanjutnya.
Sehingga, peluang ke depan adalah hilirisasi industri logam dasar dan hilirisasi pangan. Kemudian optimalisasi pengembangan ekspor produk lokal kaltara ke negara tetangga, dan potensi pengembangan ekonomi digital dan inklusi kuat.
” Jadi kalau dalam konteks upaya mendorong sumber-sumber perekonomian Kalimantan Utara, menurut hemat kami hal yang perlu kita cermati adalah bagaimana agar produk ekspor kita, produk ekspor Kalimantan Utara itu bisa masuk di pasar atau market dari negara tetangga kita yaitu di Malaysia,” jelasnya.
Malaysia itu lanjut Hasiando, adalah negara atau pasar terdekat Kaltara. Dari sisi jarak juga dekat.
“Jadi kemampuan kita untuk mengidentifikasi atau menjalin kemitraan bagaimana agar produk-produk kita, termasuk produk-produk halal bisa diterima oleh Malaysia itu menjadi keuntungan kita,” bebernya.
Dibandingkan jika produk itu harus jauh turun ke bawah untuk dijual, menjadi tambahan pasar baru. “Malaysia itu selain yang kalau kita misalkan ada ekspor ke Jawa atau ke daerah lain. Terkait dengan perkembangan harga, saya rasa perkembangan harga di Kalimantan Utara relatif terkendali,” pungkasnya. (SL)

















Discussion about this post