KALTARAUPDATE.COM -Penggunaan transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kalimantan Utara terus menunjukkan pertumbuhan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Utara, Agus Taufik, menyebut jumlah pengguna QRIS di Kaltara saat ini telah mencapai sekitar 140 ribu pengguna.
Angka tersebut masih menyisakan ruang yang cukup besar untuk memperluas penggunaan QRIS jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kalimantan Utara yang berada di kisaran 754 ribu jiwa. Itu disampaikan Agus Taufik saat Pertemuan Media 2026 dan merilis Triwulan III inflasi Kaltara, 2 September 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat peluang untuk menambah jumlah pengguna baru QRIS di Kalimantan Utara.
“Sebenarnya masih ada peluang. Kalaupun ini total penduduk kan, masih ada room untuk kitacmenambah jumlah pengguna baru QRIS di Kaltara,” lanjutnya.
Tidak hanya dari sisi pengguna, pertumbuhan transaksi digital juga terlihat dari sisi merchant atau pedagang yang menggunakan QRIS sebagai kanal pembayaran.
Agus menyebut jumlah merchant QRIS di Kalimantan Utara telah mencapai sekitar 125 ribu merchant.
“Kalau dari sisi mmm merchant juga demikian, sudah 125 ribu merchant. Merchant itu pedagang yang menggunakan QRIS sebagai kanal pembayaran. Dengan titik distribusinya Tarakan yang paling besar, kemudian Nunukan, dan seterusnya,” katanya.
Sementara itu, dari sisi nominal transaksi, Agus menyebut pertumbuhan QRIS di Kaltara mencapai sekitar 18 persen. Pertumbuhan juga tercermin dari volume transaksi yang mencapai 6,66 juta transaksi.
Agus mengaku sempat terkejut melihat tingginya volume transaksi tersebut jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kaltara.
“Volume ini saya juga sempat ini, sempat surprise juga gitu dengan jumlah penduduk 750 ribu tadi. Volume transaksinya 6,66 juta transaksi,” ungkapnya.
Jika jumlah transaksi tersebut dibandingkan dengan jumlah penduduk, rata-rata transaksi QRIS berada pada kisaran 9 sampai 10 kali dalam setahun untuk setiap penduduk.
Menurut Agus, tingginya volume transaksi tersebut menjadi gambaran bahwa penerimaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital di Kalimantan Utara terus meningkat.
“Akseptasi digital di Kaltara semakin ke sini semakin meningkat. Baik dari sisi masyarakat maupun pemerintah. Pemerintah, pelaku usaha, dan sebagainya,” jelasnya.
Pembayaran Pajak dan Retribusi Mulai Terdigitalisasi
Perkembangan transaksi digital tersebut juga berjalan seiring dengan dorongan digitalisasi transaksi pemerintah daerah.
Agus menjelaskan pemerintah daerah saat ini terus didorong meningkatkan penggunaan instrumen digital melalui Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD).
Penerapannya antara lain mencakup pembayaran pajak dan retribusi yang mulai diarahkan menggunakan kanal digital.
“Karena sekarang juga pemerintah didorong untuk terus meningkatkan istilahnya Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD),” katanya.
Agus mengatakan digitalisasi pembayaran bertujuan memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memenuhi kewajibannya kepada pemerintah.
Ia mencontohkan pembayaran pajak kendaraan bermotor yang sebelumnya banyak dilakukan secara langsung melalui kasir.
“Bayar pajak, retribusi, sekarang juga mulai kanal-kanal digital,” ujarnya.
Agus kemudian menceritakan pengalaman pembayaran pajak kendaraan melalui aplikasi Signal.
Menurutnya, digitalisasi memungkinkan masyarakat melakukan pembayaran tanpa harus datang dan mengantre di lokasi pelayanan.
“Jadi logikanya gini ya, orang bayar pajak, orang bayar retribusi harusnya dipermudah
,” katanya.
Menurut Agus, arah digitalisasi transaksi pemerintah memang diarahkan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat.
“Dalam kaitannya transaksi Pemda, orang bayar pajak, bayar retribusi, bayar apa pun kewajiban warga negara harus dipermudah. Dengan di mana pun bisa dilakukan. Aplikasinya, sistemnya, tersedigitalisasi, pembayarannya juga semakin tersedigitalisasi,” jelasnya.
Digitalisasi tersebut pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan efisiensi transaksi pemerintah dan masyarakat.
“Mungkin makanya arah sana ya digitalisasi itu, sehingga pada akhirnya nanti ini berdampak ke efisiensi yang akan semakin meningkat,” lanjut Agus. (SL)



















Discussion about this post