Pengendalian inflasi di Kota Tarakan masih menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) Kalimantan Utara, terutama karena sejumlah komoditas pangan memiliki pengaruh terhadap pergerakan harga.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Utara, Agus Taufik, mengatakan pengendalian inflasi perlu dilakukan secara bersama-sama dengan memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga kelancaran distribusi pangan. Ini disampaikan di momen pertemuan Triwulan Ketiga bersama awak media di Bukit Bintang Kota Tarakan, 2 September 2026.
Berdasarkan indikator yang disampaikan BI, inflasi Tarakan secara year on year (YoY) berada pada angka 2,91 persen, sementara secara year to date (YTD) mencapai 1,53 persen. Adapun secara month to month (MtM), inflasi berada di kisaran 0,22 persen.
Menurut Agus, angka tersebut menunjukkan pentingnya menjaga stabilitas harga, khususnya pada komoditas pangan yang pergerakannya cukup sensitif.
“Harus ada komitmen terkait dengan inflasi. Yaitu keterlibatan Bank Indonesia akan mendukung komitmen tersebut melalui pemandangan awal monitoring,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, salah satu tantangan pengendalian inflasi di Tarakan berkaitan dengan karakteristik daerah yang masih bergantung pada pasokan dari luar.
Tarakan bukan merupakan daerah penghasil utama untuk seluruh kebutuhan pangan masyarakat. Kondisi tersebut membuat kelancaran pasokan dari daerah lain menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas harga.
Karena itu, Agus menyebut kerja sama antardaerah atau KAD terus menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi.
Agus menilai pengembangan pertanian dengan teknologi greenhouse dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat produksi pangan lokal.
Dengan teknologi tersebut, kondisi air dan panas dapat lebih dikendalikan sehingga kegiatan produksi tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi musim.
“Dan itu unik gitu jadi panennya karena greenhouse kan bisa diatur ya airnya dan panasnya, jadi tidak tergantung musim dan bisa terus menambah lah gitu ya angkanya. Semakin banyak kelompok tani yang punya greenhouse kan bisa membantu menekan inflasi, produksi kita bisa jauh lebih baik,” lanjutnya.
Cabai Jadi Komoditas yang Perlu Diwaspadai
Agus menyebut terdapat sejumlah komoditas yang sensitif terhadap pergerakan inflasi. Salah satunya cabai yang pergerakan harganya dapat muncul berulang dalam satu tahun.
Kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya memperkuat produksi pangan di daerah. Ketika produksi lokal dapat ditingkatkan, kebutuhan pasokan dari luar daerah diharapkan dapat dikurangi, terutama untuk komoditas yang rentan mengalami kenaikan harga.
Selain produksi lokal, pengendalian inflasi juga dilakukan melalui penguatan kerja sama pasokan dengan daerah lain.
BI bersama pemerintah daerah terus mendorong kerja sama antardaerah untuk memastikan pasokan pangan tetap tersedia di Tarakan.
Salah satu yang tengah dijajaki yakni kerja sama dengan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, termasuk untuk kebutuhan daging sapi.
Proses penjajakan bahkan telah dilakukan hingga peninjauan lokasi rumah potong hewan.
Kerja sama pasokan antardaerah juga telah dilakukan dengan sejumlah wilayah lain, termasuk Nunukan dan Berau.
Pasokan dan Distribusi Jadi Kunci
Agus mengatakan, pengendalian inflasi tidak hanya berkaitan dengan harga di tingkat konsumen, tetapi juga bagaimana memastikan rantai pasokan berjalan dengan baik.
Ketersediaan komoditas, distribusi hingga akses masyarakat terhadap pangan menjadi bagian yang perlu diperhatikan secara bersamaan.
Karena itu, BI terus mendorong sinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak dalam menjaga pasokan pangan.
Upaya tersebut juga dilakukan melalui stabilisasi pasokan dan harga pangan, termasuk dukungan terhadap penyaluran beras melalui Bulog.
Selain menjaga pasokan dalam daerah, kerja sama perdagangan dengan daerah lain juga terus dibuka untuk memperluas sumber komoditas.
Salah satunya melalui rencana misi dagang Jawa Timur ke Kalimantan Utara yang mempertemukan pelaku usaha dari kedua daerah.
Agus menyebut langkah tersebut dapat membuka peluang perdagangan sekaligus memperkuat jaringan pasokan komoditas bagi Kaltara.
Bagi Tarakan, penguatan pasokan menjadi penting karena kebutuhan masyarakat tidak seluruhnya dapat dipenuhi dari produksi lokal.
Dengan kombinasi kerja sama antardaerah dan peningkatan produksi lokal, BI berharap tekanan harga dari komoditas pangan dapat lebih terkendali.
Agus menegaskan, pengendalian inflasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, kelompok tani hingga masyarakat.
Penguatan produksi melalui greenhouse, kelancaran distribusi, serta kerja sama antardaerah menjadi bagian dari langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kestabilan harga pangan di Tarakan. (SL)




















Discussion about this post