KALTARAUPDATE.COM – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan sebagian besar uang yang beredar di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T) sudah saatnya diganti dengan uang layak edar.
Berdasarkan hasil survei BI, sekitar 80 persen uang yang beredar di daerah 3T membutuhkan penggantian, meski sebagian masih dapat digunakan sebagai alat pembayaran.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama digelarnya Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 yang dilaksanakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara bersama Kodaeral XIII Koarmada II menggunakan KRI Ajak-653.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan sekaligus Kepala Koordinator Bank Indonesia Wilayah Kalimantan, Aris Munandar, mengatakan kehadiran tim ekspedisi bukan semata-mata menunggu uang rusak atau robek, melainkan memastikan masyarakat di pulau-pulau terluar tetap memperoleh uang rupiah dalam kondisi baik.
“Kalau dari hasil survei kami, itu 80 persen uang memang sudah waktunya untuk ditukar. Tapi bukan berarti tidak layak edar. Alangkah baiknya kita melayani masyarakat di daerah itu tidak menunggu sampai uang lusuh betul atau robek,” ujar Aris.
Untuk mendukung misi tersebut, Bank Indonesia menyiapkan Rp6 miliar uang layak edar dengan berbagai pecahan yang akan dibawa selama pelayaran berlangsung.
Nominal tersebut digunakan untuk melayani penukaran uang lusuh, uang rusak ringan, hingga memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pecahan kecil yang banyak digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
“Di Ekspedisi Rupiah Berdaulat kali ini kita membawa uang tukaran Rp6 miliar. Ada pecahan-pecahan kecil maupun pecahan yang agak besar. Di samping penukaran uang lusuh atau uang robek, apabila ada kebutuhan uang yang lebih kecil misalnya untuk ke pasar atau anak-anak ke sekolah juga bisa dilakukan,” katanya.
Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 di Kalimantan Utara berlangsung pada 14-20 Juli 2026.
Selama tujuh hari pelayaran, tim akan mengunjungi lima pulau, yakni Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Pulau Seluk Sulaiman, dan Pulau Derawan menggunakan kapal perang KRI Ajak-653.
Menurut Aris, kegiatan yang dilepas dari Tarakan tersebut merupakan ekspedisi ke-12 sepanjang 2026. Ia menjelaskan, program ini merupakan kelanjutan sinergi Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut yang telah berjalan sejak 2012.

Selama kurun waktu tersebut, kolaborasi kedua institusi telah melaksanakan 150 kegiatan kas keliling di wilayah 3T dengan jangkauan 766 pulau.
“Sejak tahun 2012 sampai dengan 2025, TNI AL dan Bank Indonesia telah melaksanakan 150 kali kegiatan kas keliling 3T dengan jangkauan 766 pulau yang berhasil terkunjungi,” ungkapnya.
Pada 2026, cakupan layanan kembali diperluas. BI dan TNI AL menargetkan ekspedisi berlangsung di 19 provinsi dengan sasaran 97 pulau yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Aris mengakui, jumlah tersebut masih jauh dari cukup apabila dibandingkan dengan jumlah pulau berpenghuni di Indonesia yang mencapai sekitar seribu pulau.

Apalagi kebutuhan masyarakat terhadap uang rupiah berlangsung setiap hari, bukan hanya ketika ekspedisi dilaksanakan.
“Sebetulnya ini jauh dari cukup mengingat jumlah pulau di Indonesia yang berpenghuni ada sekitar seribu. Kebutuhan rupiah itu bukan setahun sekali, tetapi setiap hari,” ujarnya.
Karena itu, BI bersama TNI AL terus berupaya memperluas jangkauan pelayanan agar masyarakat di daerah perbatasan tidak lagi kesulitan memperoleh uang layak edar.
Menurutnya, penukaran uang di wilayah 3T diharapkan menjadi layanan yang tersedia secara rutin, bukan kegiatan yang hanya hadir sesekali.
“Kita berupaya supaya jangkauan penukaran uang lusuh maupun uang kecil di daerah terdepan, terpencil, dan terluar itu bukan sesuatu yang spesial, tetapi menjadi pelayanan yang normal,” katanya.
Selain layanan penukaran uang, Aris menegaskan ekspedisi juga membawa misi edukasi kepada masyarakat mengenai rupiah.
Tim Bank Indonesia akan memberikan literasi tentang cara mengenali keaslian uang melalui metode dilihat, diraba, dan diterawang, sekaligus mengenalkan berbagai unsur pengaman yang terdapat pada uang rupiah.
“Kami memandang edukasi dan literasi rupiah ini jauh lebih penting. Masyarakat harus paham mana rupiah asli, apa tanda-tandanya, dengan cara melihat, meraba, dan menerawang. Di rupiah kita paling tidak ada tujuh tanda khusus yang menyatakan bahwa uang itu asli,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat yang masih ragu terhadap keaslian uang agar tidak khawatir.
Masyarakat dapat membawa uang tersebut ke kantor Bank Indonesia maupun bank umum terdekat untuk dilakukan pemeriksaan.
Mengenai target penukaran, Aris mengatakan BI tidak membatasi jumlah uang yang akan ditukarkan selama persediaan masih tersedia.
Bahkan ia berharap uang yang dibawa dalam ekspedisi dapat tersalurkan seluruhnya kepada masyarakat.
“Kalau bisa habis, itu artinya apa yang kita bawa berhasil tersampaikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pada ekspedisi-ekspedisi sebelumnya, uang yang dibawa hampir selalu habis ditukarkan. Bahkan di beberapa lokasi, kebutuhan masyarakat melebihi jumlah uang yang disiapkan sehingga menjadi bahan evaluasi untuk penambahan frekuensi pelayanan pada masa mendatang.
Dari sisi nominal, BI juga meningkatkan jumlah uang yang dibawa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya rata-rata di bawah Rp5 miliar. Sekarang kita upayakan di atas Rp5 miliar, yaitu Rp6 miliar,” pungkasnya. (SL)


















Discussion about this post