KALTARAUPDATE.COM – Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya menjaga kedaulatan rupiah hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T) melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 yang dilepas dari Kota Tarakan, Kalimantan Utara.
Program hasil sinergi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara bersama Komando Daerah Maritim (Kodaeral) XIII Koarmada II tersebut tidak hanya membawa layanan penukaran uang layak edar, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kehadiran negara di pulau-pulau terluar Indonesia.

Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan yang juga Kepala Koordinator Bank Indonesia Wilayah Kalimantan, Aris Munandar menegaskan bahwa rupiah memiliki makna jauh lebih besar dibanding sekadar alat pembayaran.
Ia mengatakan, rupiah merupakan identitas bangsa sekaligus simbol kedaulatan negara yang harus dijaga keberadaannya di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Penggunaan uang rupiah di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan hal penting dan strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena rupiah bukan saja alat transaksi pembayaran, tetapi rupiah juga merupakan identitas dan alat pemersatu bangsa serta merupakan simbol kedaulatan negara sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Mata Uang Rupiah,” ujar Aris.
Mengawali sambutannya dengan pantun, Aris menyampaikan bahwa pelepasan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 menjadi wujud nyata kerja sama strategis antara Bank Indonesia dengan TNI Angkatan Laut dalam menjaga kedaulatan Indonesia dari dua sisi berbeda.
Menurutnya, apabila TNI AL menjaga kedaulatan melalui pertahanan negara, maka Bank Indonesia mengemban amanah menjaga kedaulatan melalui keberadaan rupiah di seluruh pelosok negeri.
Aris menjelaskan, perjalanan menjaga keberadaan rupiah di Indonesia bukanlah pekerjaan sederhana. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki tantangan geografis yang sangat besar.
Ia menyebut Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau, dengan sekitar seribu pulau berpenghuni, serta berbatasan langsung dengan 11 negara.
Kondisi tersebut membuat distribusi uang layak edar membutuhkan strategi khusus agar masyarakat di wilayah terpencil tetap memperoleh hak yang sama terhadap layanan Bank Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Aris memaparkan tiga tantangan utama yang dihadapi Bank Indonesia dalam mendistribusikan rupiah.
Tantangan pertama adalah kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan infrastruktur yang belum sepenuhnya memadai.
Menurutnya, masih terdapat banyak wilayah yang menjadi blank spot karena belum terjangkau layanan pengedaran uang oleh Bank Indonesia maupun jaringan perbankan.
“Masih banyak daerah yang kita anggap sebagai blank spot yang belum dijangkau oleh BI dan perbankan dalam pengedaran uang rupiah ini,” ujarnya.
Tantangan kedua berkaitan dengan tingkat pemahaman masyarakat dalam memperlakukan uang.
Aris mengungkapkan masih banyak uang yang rusak akibat kebiasaan dilipat, dibasahi, hingga diikat menggunakan stapler sehingga tidak lagi layak edar.
Karena itu, selain membawa layanan kas keliling, Bank Indonesia juga terus memperkuat edukasi mengenai cara memperlakukan uang rupiah dengan benar.
“Tantangan ini kami punya kewajiban untuk menjawab dengan edukasi dan juga literasi,” katanya.
Sementara tantangan ketiga adalah potensi penggunaan mata uang selain rupiah, terutama di wilayah perbatasan.
Menurut Aris, kondisi tersebut memiliki risiko strategis terhadap ketahanan nasional apabila tidak diantisipasi secara berkelanjutan.
Ia mencontohkan Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang memiliki tantangan tersebut karena berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Di Kalimantan sendiri terdapat sekitar 1.278 pulau, sedangkan Kalimantan Utara memiliki 467 pulau yang sebagian berada di kawasan perbatasan.
“Provinsi Kalimantan Utara juga memiliki perbatasan langsung dengan negara tetangga, sehingga ketiga tantangan tadi juga terjadi di wilayah Provinsi Kalimantan Utara,” jelasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Aris menilai Bank Indonesia tidak dapat bekerja sendiri.
Menurutnya, sinergi dengan TNI Angkatan Laut menjadi solusi strategis karena armada laut mampu menjangkau wilayah-wilayah yang sulit diakses.
Ia menyebut kerja sama BI dan TNI AL telah dimulai sejak 2012 melalui pelayanan kas keliling di kawasan 3T.
“TNI Angkatan Laut merupakan elemen bangsa utama yang berada di garda terdepan menjaga kedaulatan NKRI dan mempunyai kekuatan armada untuk menjangkau seluruh pelosok tanah air dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya.
Dalam Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 kali ini, terdapat lima kegiatan utama yang akan dilaksanakan.
Pertama adalah layanan kas keliling untuk menukar uang lusuh dengan uang layak edar sekaligus memenuhi kebutuhan pecahan uang masyarakat.
Kedua, Bank Indonesia akan melakukan pemantauan guna melihat berbagai peluang penguatan eksistensi rupiah sekaligus mendorong potensi ekonomi daerah yang dikunjungi.
Ketiga berupa sosialisasi dan edukasi program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah kepada masyarakat maupun pelajar.
Keempat, masyarakat dan siswa akan mendapat kesempatan mengikuti kegiatan open ship di kapal perang TNI AL.
Sedangkan kegiatan kelima berupa sharing leadership dari para perwira KRI kepada peserta Bank Indonesia yang mengikuti program pelayaran agar memperoleh pengalaman kepemimpinan selama ekspedisi.
Aris mengatakan berbagai ekspedisi yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat di wilayah kepulauan.
Selain dapat memperoleh uang layak edar, warga juga merasa diperhatikan karena negara hadir melalui kolaborasi Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut.
“Masyarakat setempat Alhamdulillah sangat bersyukur dan telah merasakan kegiatan ini bermanfaat. Karena selain mendapatkan uang baru yang jarang mereka lihat, juga merasakan kebahagiaan dengan adanya perhatian melalui kunjungan TNI AL dan Bank Indonesia dalam kegiatan tersebut,” tuturnya.
Menutup sambutannya, Aris menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 di Kalimantan Utara.
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan mampu memperkuat kehadiran rupiah sebagai simbol kedaulatan Indonesia hingga pulau-pulau terdepan.
“Ekspedisi Rupiah Berdaulat dilepas untuk berjuang menjangkau negeri hingga pulau terdepan,” ucap Aris menutup sambutannya melalui pantun. (SL)




















Discussion about this post