Lurah Dorong Pilah Sampah dari Rumah
KALTARAUPDATE.COM, TARAKAN– Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sejumlah RT di Kelurahan Sebengkok, Kota Tarakan, mulai melakukan persiapan dengan menggelar kerja bakti dan membersihkan lingkungan.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk partisipasi warga menyambut momentum 17 Agustus. Selain membersihkan lingkungan, sejumlah RT juga mulai memasang berbagai ornamen dan pernak-pernik kemerdekaan di lingkungan masing-masing.
Lurah Sebengkok, Dhimas Clara Permana, mengatakan persiapan menyambut 17 Agustus sudah mulai dilakukan oleh beberapa RT.
“Kalau untuk persiapan kemarin dari beberapa RT sudah melakukan ini ya, pembersihan, sudah kerja bakti,” ujar Dhimas.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan menjelang 17 Agustus. Sebagian RT memang sudah rutin menggerakkan warga untuk melakukan kerja bakti di lingkungan masing-masing.
“Beberapa RT sudah kerja bakti kemarin. Terus sudah mulai pasang bulu-bulu. Sudah mulai persiapan sih para ketua RT,” katanya.
Untuk agenda perlombaan, Dhimas mengatakan Kelurahan Sebengkok tidak secara khusus membuat satu rangkaian perlombaan yang harus diikuti seluruh RT.
Masing-masing RT memiliki agenda sendiri dan dapat menggelar kegiatan sesuai kesepakatan bersama warga.
“Nah biasanya RT sendiri punya agenda sendiri masing-masing itu di tiap RT-nya,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, pihak kelurahan juga terkadang ikut hadir apabila mendapatkan undangan dari RT.
“Dan mungkin biasa juga diundang, ada yang mengundang juga ya. Contohnya kita ikut meriahkan, hadir ke RT,” tuturnya.
Menurut Dhimas, bentuk kegiatan yang dilakukan masyarakat cukup beragam. Selain perlombaan khas 17 Agustus, ada pula kegiatan syukuran dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan.
Ia melihat perkembangan media sosial juga membuat jenis permainan atau perlombaan semakin beragam.
“Ya sekarang kalau ngelihat medsos ini sudah banyak lah lomba-lomba yang lucu ya sekarang. Sudah banyak lomba yang lucu lah yang mungkin bisa diadaptasi oleh teman-teman RT,” katanya.
“Biasanya ya lomba-lomba seperti itu, kadang juga syukuran. Syukuran ya, 17 Agustusan,” lanjutnya.
Namun, pelaksanaan kegiatan masyarakat tahun ini tetap harus menyesuaikan dengan kondisi anggaran. Kebijakan efisiensi anggaran membuat ruang pemerintah kelurahan untuk menggelar kegiatan secara mandiri menjadi terbatas.
“Efisiensi anggaran, betul. Ini lah kita efisiensi ini jadi juga terbatas juga,” ungkap Dhimas.
“Karena kita setiap melakukan kegiatan mungkin nggak ada anggaran sama sekali. Makanya itu ya tetap mungkin kami gabung dengan RT sih, kegiatan-kegiatan seperti itu,” sambungnya.
Hingga saat ini, pihak kelurahan belum menerima laporan resmi mengenai berapa RT yang memastikan akan menggelar perlombaan.
“Belum ada, kalau yang itu belum ada info ke kami. Cuma mereka langkah awal ini mereka bersih-bersih dulu sih. Bersih lingkungan,” ujarnya.
Selain persiapan menyambut 17 Agustus, momentum kegiatan bersih-bersih lingkungan juga dimanfaatkan Kelurahan Sebengkok untuk kembali mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Dhimas mengajak masyarakat untuk memulai kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Menurutnya, sampah organik dan nonorganik sebaiknya dipisahkan sehingga sampah yang masih memiliki nilai manfaat dapat diolah atau didaur ulang.
“Bapak-Ibu semua, masyarakat Pulau Sebengkok, kami mengimbau untuk kebersamaan kita semua. Untuk kebersihan lingkungan kita semua,” ujar Dhimas.
“Supaya kita hidup bersih dan sehat. Kami mengimbau, minta tolong kepada Bapak-Ibu semua. Dimulai dari kita, di lingkungan terkecil adalah keluarga,” lanjutnya.
Ia mengajak warga mulai memilah sampah berdasarkan jenisnya.
“Ayo kita pilahkan sampah yang mana yang organik, mana yang nonorganik,” katanya.
Menurut Dhimas, pemilahan tersebut memungkinkan sampah yang masih dapat dimanfaatkan untuk diolah kembali.
“Harapannya sampah-sampah yang masih bisa bermanfaat ini bisa dimanfaatkan, bisa didaur ulang, supaya lebih bermanfaat untuk kita semua,” jelasnya.
Langkah tersebut dinilai penting karena semakin banyak sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir akan menambah beban pengelolaan sampah.
“Daripada sampah ini nanti menumpuk di tempat pembuangan akhir. Yang memang juga info Pak Wali kemarin sudah mau penuh lagi,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat tidak menunggu persoalan sampah menjadi lebih besar.
“Itu mungkin cukup berisiko, cukup membahayakan kita semua. Ayo kita sama-sama mulai dari diri kita sendiri. Kita mulai pilah dari rumah sampah-sampah sesuai dengan organik ataupun nonorganik,” tegasnya.
Dhimas mengatakan sampah organik sebenarnya dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan lain, salah satunya diolah menjadi kompos.
“Betul,” jawabnya ketika ditanya mengenai pemanfaatan sampah organik menjadi kompos.
Menurutnya, pengelolaan sampah sebenarnya sudah lama didorong melalui bank sampah di lingkungan masyarakat.
“Ya, itu dari bank sampah sudah mulai. Mereka juga mulai menggalakkan, bukan mulai ya. Sebenarnya kalau ketua bank sampahnya sudah lama itu. Sudah lama untuk mengolah-olah,” jelasnya.
Namun, tantangannya masih berada pada kebiasaan masyarakat.
Dhimas mengakui sebagian warga masih sibuk sehingga memilih cara praktis dengan mencampurkan seluruh sampah menjadi satu.
“Tapi mungkin masyarakat ini yang masih terlalu sibuk. Jadi langsung digabungkan aja sampahnya,” katanya.
Kebiasaan memilah sampah yang belum merata tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu terus didorong.
“Betul. Itu lah yang mungkin agak susah ya. Malas memilah, sudah digabung aja semuanya,” ujarnya.
Di sisi lain, Kelurahan Sebengkok juga menyambut wacana pemerintah untuk kembali menghidupkan program Clean and Green.
Dhimas mengatakan wacana tersebut sebelumnya juga pernah diterapkan dan kini kembali dibicarakan untuk meningkatkan semangat masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Ya, clean and green ini kemarin memang akan diwacananya akan digabungkan kembali beberapa kali ya. Dan akan dianggarkan Pak Wali yang harapannya juga untuk meningkatkan semangat RT dan seluruh warga supaya lebih memperhatikan lingkungan,” ungkapnya.
Menurutnya, dukungan berupa stimulan maupun penghargaan diharapkan dapat menjadi pemicu bagi RT dan masyarakat untuk lebih aktif mempercantik lingkungan.
“Harapannya kalau ada stimulan seperti itu, warga lebih tertarik, lebih semangat. Supaya lingkungan juga lebih bersih, lebih indah,” katanya.
Untuk mekanismenya, Dhimas memperkirakan program tersebut nantinya dapat dikemas dalam bentuk perlombaan.
“Ya mungkin kalau dari kami mungkin diperlombakan aja,” ujarnya.
Nantinya, tim dari pemerintah kota dapat turun langsung ke lapangan untuk menilai kondisi masing-masing RT berdasarkan kriteria Clean and Green.
“Nanti kan ada tim dari pusat, dari kota gitu ya. Tim dari kota nanti akan turun ke lapangan menilai nih, menilai RT-RT mana nih yang sesuai dengan kriteria dari Clean and Green,” jelasnya.
RT dengan penilaian terbaik kemudian dapat diberikan penghargaan.
“Dan nanti mana yang terbaik, kasih hadiah. Nah itu mungkin lebih akan memacu semangat teman-teman RT untuk bisa memacu lebih berkreativitas, untuk mempercantik RT-nya masing-masing, supaya cantik, bersih,” tuturnya.
Dhimas menyebut program tersebut, berdasarkan pemahamannya dari arahan Wali Kota, bukan hanya ditujukan untuk Kelurahan Sebengkok.
“Enggak, kalau sepahaman saya kemarin tentu akan secara keseluruhan ya,” katanya.
Program tersebut kemungkinan akan didorong pada tingkat Kota Tarakan dan diikuti RT-RT dari berbagai wilayah.
“Mungkin akan coba di tingkat kota. Tingkat kota mungkin akan dianggarkan,” ujarnya.
Namun, terkait kapan program tersebut mulai direalisasikan, Dhimas mengaku belum mendapatkan informasi lebih lanjut.
“Oh itu belum ada info. Saya nggak tahu nih kalau di kelurahan lain informasi seperti apa,” katanya.
Ia menyebut dirinya baru mengetahui kembali wacana tersebut ketika mendapat arahan Wali Kota dalam pengarahan terkait ketua RT.
“Saya juga kemarin baru tahu kan dari Bapak menyampaikan di pengarahan RT kemarin, di pengarahan Pak Wali kemarin,” tuturnya.
Menurut Dhimas, program tersebut masih sebatas wacana yang sedang disiapkan untuk kembali dijalankan.
“Ya, siap-siap ada wacana beliau dan Bapak ya untuk bisa menghidupkan itu lagi,” ujarnya.
Ia mengenang bahwa program serupa pernah berjalan dan saat itu sejumlah RT bahkan memiliki gapura maupun penataan lingkungan masing-masing.
“Dulu kan sempat Clean and Green itu juga diterapkan. Dulu tapi nggak tahu sekarang. Dulu kan bagus itu kan, gapuranya kan dibuat. Setiap RT itu ada ininya,” katanya.
Mengenai indikator Clean and Green, Dhimas menyebut kebersihan dan penataan lingkungan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Ia optimistis RT di Sebengkok mampu berkreasi untuk memperbaiki lingkungan masing-masing.
“Insyaallah, kami sih optimis ya. Teman-teman RT sebenarnya masih bisa berkreasi. Kami sangat optimis sekali nih kepada RT,” ujarnya.
Terlebih, menurutnya, banyak ketua RT yang baru terpilih dan memiliki semangat untuk melakukan pembenahan.
“Apalagi kita RT-RT baru juga ini kan semangatnya masih tinggi juga,” katanya.
Penataan dapat dilakukan dengan membuat lingkungan lebih bersih dan hijau, termasuk mengecat bagian tertentu agar lingkungan terlihat lebih menarik.
“Saya pikir ya lingkungannya yang bersih, hijau-hijau semua gitu. Terus yang dicat warna-warni itu kan cantik sekali lah seperti itu. Ada banyak mungkin yang bisa seperti itu lah nanti,” jelasnya.
Namun, Dhimas menyadari tidak mudah meminta seluruh rumah menerapkan konsep yang sama secara serentak.
Karena itu, penerapan dapat dimulai dari titik-titik tertentu.
“Ya kalau seharusnya lebih baik ya semuanya ya. Cuman kan kita tahu lah untuk bisa 100 persen itu juga pasti tantangannya berat,” ujarnya.
“Mungkin nanti dari RT ini spot-spot kali ya. Diawali dari spot dulu, spot-spot dulu. Nanti spot sini. Harapannya juga spot satu menular ke spot-spot yang lain,” lanjutnya.
Menurutnya, perubahan dapat dilakukan secara bertahap hingga akhirnya semakin banyak bagian lingkungan yang ikut tertata.
“Seperti itu sih, pelan-pelan kita coba nanti itu,” katanya.
Untuk kegiatan kerja bakti, Dhimas menyebut ketua RT di Kelurahan Sebengkok cukup aktif menggerakkan masyarakat.
Menurutnya, hampir setiap minggu selalu ada RT yang melaksanakan kerja bakti di lingkungan masing-masing.
“Alhamdulillah ketua RT di Sebengkok ini sangat proaktif. Rutin mereka setiap minggu itu ada aja tuh RT yang melakukan kerja bakti di lingkungan masing-masing,” ungkap Dhimas.
Aktivitas tersebut bahkan semakin banyak dilakukan menjelang peringatan HUT Kemerdekaan.
“Apalagi yang kemarin mendekati 17-an ini agak banyak yang melakukan ini,” katanya.
Meski demikian, Dhimas tidak menutup mata bahwa tingkat partisipasi warga belum sepenuhnya sama di setiap wilayah.
“Kalau saya bilang aktif semua ya enggak yang kita akui itu. Cuman ya alhamdulillah yang penting ada warga yang bergerak, dipimpin oleh ketua RT itu sudah alhamdulillah,” ujarnya.
Ia berharap warga yang sudah aktif dapat mengajak warga lainnya untuk ikut terlibat.
“Harapan kami sih bisa menular ya. Menular artinya teman-teman yang sudah aktif untuk ikut kerja bakti ini bisa menularkan ke warga-warga lain yang belum aktif,” jelasnya.
Salah satu alasan kegiatan kerja bakti penting dilakukan secara rutin di Sebengkok adalah kondisi wilayah yang cukup padat penduduk dan memiliki banyak saluran drainase.
Dhimas mengatakan sampah menjadi salah satu persoalan yang sering ditemukan di dalam saluran drainase.
“Kalau di Sebengkok ini kan area yang padat penduduk ya, area padat penduduk, perumahan,” katanya.
Menurutnya, sampah yang menyumbat drainase tidak hanya berasal dari plastik maupun sisa makanan.
Daun-daun yang berguguran dari pepohonan juga dapat masuk ke saluran air dan menyebabkan penyumbatan.
“Terutama untuk drainase, tadi itu memang sampah di drainase itu sangat luar biasa. Bukan hanya sampah plastik sama makanan, dari daun-daun pepohonan itu juga banyak menyumbat. Menyumbat saluran drainase,” jelas Dhimas.
Karena itu, pembersihan drainase perlu dilakukan secara rutin.
“Dan ini memang harus rutin,” katanya.
Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko berbagai persoalan lingkungan, termasuk genangan dan banjir serta mengantisipasi potensi longsor di wilayah berbukit.
“Terutama yang pertama ya untuk menghindari banjir, longsor yang sudah disampaikan. Longsor juga, waktu penyakit yang nanti bisa membahayakan kita semua,” ujarnya.
Dhimas menjelaskan, daun-daun yang berguguran dapat masuk ke selokan, sementara akar pohon juga dalam kondisi tertentu dapat mengganggu struktur drainase.
“Daun-daun, akar juga ada. Daun-daun itu kan banyak yang berguguran, rontok. Nah itu yang kering akhirnya masuk juga ke selokan,” jelasnya.
“Baru akar-akar itu juga kadang memecah drainasenya,” lanjut Dhimas.
Selain sampah, persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah sedimentasi atau endapan material di dalam saluran.
Dhimas menyebut beberapa bagian saluran di kawasan tertentu sebelumnya sudah mendapatkan penanganan dengan penggalian.
“Kalau sedimentasi, alhamdulillah kalau di mana ini? Di pinggir jalan kemarin, di kawasan… yang kerombong-kerombong kuning itu kemarin kan sudah digali,” katanya.
Menurutnya, kawasan tersebut saat ini sudah lebih aman setelah dilakukan penggalian.
“Alhamdulillah yang area itu sudah digali kemarin. Alhamdulillah aman lah sudah. Baru tahun lalu soalnya,” ujarnya.
Namun, untuk parit-parit yang berada di lingkungan permukiman warga, pembersihan tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat melalui kerja bakti.
“Tinggal yang di parit-parit yang di lingkungan warga ya, itu memang harus digali lewat kerja bakti itu,” jelas Dhimas.
Ia menyebut ada pula lokasi yang menjadi perhatian karena endapan pasir dari kawasan yang lebih tinggi terbawa air dan kemudian mengendap di bagian bawah.
“Harus warga turun tangan untuk gali-gali sedimentasi,” katanya.
Menurutnya, kondisi geografis Sebengkok yang memiliki kawasan perbukitan membuat material dari bagian atas dapat terbawa air menuju saluran di bawah.
“Ya namanya pasir ya, dari atas. Dari atas, area-area itu kan kita perbukitan ya. Akhirnya pasir ini mengendaplah di bawah situ, tutup selokan,” jelasnya.
Mengenai apakah kerja bakti harus dilakukan setiap minggu, Dhimas mengatakan pihak kelurahan tidak ingin menjadikannya sebagai kewajiban yang bersifat memaksa.
Kelurahan memilih mengimbau para ketua RT agar dapat menggerakkan warganya sesuai kondisi masing-masing.
“Kalau kewajiban enggak sih, kami enggak mau wajib. Hanya mengimbau kepada para ketua RT untuk bisa menggerakkan warganya untuk kerja bakti,” ujarnya.
Menurutnya, kesadaran masyarakat dan inisiatif ketua RT menjadi kunci agar kegiatan kebersihan tetap berjalan.
Ia bersyukur karena sebagian besar ketua RT di Sebengkok sudah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Tapi alhamdulillah sebagian besar ketua RT ini sudah sangat menjaga lingkungan ya, mengajak warganya untuk bisa kerja bakti,” katanya.
Bahkan, hampir setiap minggu selalu ada RT yang menggelar kegiatan tersebut.
“Ada aja,” jawab Dhimas.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan kerja bakti dapat dilakukan secara mandiri oleh RT maupun dengan melibatkan pihak kelurahan.
“Kelurahan juga diundang ya, biasanya ada. Kami diundang. Ada juga yang mandiri dari RT,” pungkasnya.
Bagi Kelurahan Sebengkok, semangat menyambut HUT ke-81 RI tidak hanya diwujudkan melalui pemasangan ornamen dan perlombaan. Momentum tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkuat gotong royong, menjaga kebersihan drainase, memilah sampah dari rumah, serta mendorong setiap RT menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan hijau. (Advetorial)



















Discussion about this post