JAKARTA — Perkembangan smartphone lipat kini memasuki tahap ketika bentuk perangkat bukan lagi satu-satunya hal yang menjadi perhatian. Setelah tujuh generasi pengembangan foldable, Samsung mulai membawa pendekatan berbeda pada Galaxy Z8 Series dengan membuat perangkat semakin menyesuaikan diri dengan aktivitas penggunanya.
Melalui Galaxy Z Fold8 Ultra, Galaxy Z Fold8, dan Galaxy Z Flip8, Samsung memadukan desain foldable dengan kemampuan Galaxy AI untuk menghadirkan pengalaman yang berbeda sesuai karakter masing-masing perangkat.
Perubahan itu terlihat dari cara pengguna berinteraksi dengan smartphone.
Jika sebelumnya seseorang harus membuka aplikasi terlebih dahulu untuk menjalankan sebuah aktivitas, Galaxy Z8 Series mencoba membuat proses tersebut lebih praktis melalui fitur-fitur berbasis konteks.
Fold8 Dirancang untuk Pengguna yang Tak Bisa Diam di Satu Aktivitas
Bagi pengguna yang dalam satu waktu harus membuka percakapan, mencari informasi, membuat catatan hingga mengedit konten, layar menjadi bagian penting dari pengalaman menggunakan smartphone.
Di sinilah Galaxy Z Fold8 mengambil peran.
Layar luas pada perangkat memungkinkan pengguna menjalankan beberapa aktivitas secara bersamaan. Samsung juga membekali Galaxy Z Fold8 dengan fitur seperti Now Nudge yang dapat memahami konteks yang sedang ditampilkan dan memberikan saran tindakan yang relevan.
Misalnya ketika pengguna tengah membicarakan sebuah agenda melalui percakapan, Now Nudge dapat membantu mengarahkan pengguna ke aktivitas berikutnya, termasuk membuka Kalender melalui tampilan Multi Window.
Pendekatan tersebut membuat smartphone tidak sekadar menjadi tempat menjalankan aplikasi, tetapi menjadi perangkat yang membantu menyambungkan satu aktivitas dengan aktivitas lainnya.
Bagi mahasiswa, pekerja, maupun content creator, kemampuan semacam ini menjadi relevan karena aktivitas mereka tidak lagi berlangsung secara linear.
Membalas pesan bisa berlanjut menjadi membuat jadwal. Mencari referensi dapat dilanjutkan dengan mencatat ide. Sementara foto yang baru saja diambil dapat langsung masuk ke tahap penyuntingan.
Bukan Cuma Memotret, Konten Bisa Langsung Diproses
Perubahan cara menggunakan smartphone juga terlihat dari kebutuhan pengguna media sosial.
Aktivitas membuat konten kini tidak berhenti pada pengambilan foto atau video. Setelah kamera digunakan, pengguna masih harus memilih materi, melakukan editing, menentukan komposisi hingga membagikannya.
Galaxy Z8 Series mencoba memangkas sebagian proses tersebut melalui kemampuan Galaxy AI.
Pada Galaxy Z Fold8, misalnya, My FanCam dapat membantu pengguna membuat video dengan mempertahankan fokus pada subjek tertentu. Pengguna memilih video dari Galeri dan menentukan orang yang ingin diikuti, kemudian sistem melakukan reframing secara otomatis berdasarkan subjek tersebut.
Ada pula Photo Assist yang memungkinkan pengguna melakukan penyuntingan foto menggunakan instruksi atau prompt.
Cara ini membuat proses editing menjadi lebih sederhana. Pengguna tidak harus selalu mengandalkan banyak tahapan manual ketika ingin mengubah tampilan sebuah foto.
Bagi generasi yang terbiasa dengan pola create–edit–share, kemampuan tersebut membuat smartphone tidak hanya berfungsi sebagai kamera, tetapi juga menjadi bagian dari ruang produksi konten.
Flip8 Membawa Pengalaman Berbeda
Sementara Galaxy Z Fold8 mengandalkan layar luas untuk produktivitas dan multitasking, Galaxy Z Flip8 mengambil pendekatan yang lebih ringkas.
Samsung memaksimalkan FlexWindow agar pengguna dapat mengakses lebih banyak informasi dan fungsi tanpa harus membuka perangkat.
Salah satu pengalaman yang ditawarkan adalah Now Brief, yang menyajikan ringkasan informasi berdasarkan rutinitas, minat, dan kebutuhan pengguna.
Informasi seperti cuaca, jadwal, hingga berbagai insight yang relevan dapat ditampilkan melalui layar luar.
Artinya, pengguna tidak harus selalu membuka ponsel hanya untuk melihat informasi sederhana.
Galaxy Z Flip8 juga membawa kemampuan Gemini Intelligence yang dapat diakses melalui FlexWindow menggunakan perintah suara maupun tombol samping.
Pendekatan ini membuat pengalaman menggunakan ponsel menjadi lebih singkat. Pengguna cukup melihat informasi yang dibutuhkan, memahami konteksnya, kemudian menentukan tindakan berikutnya.
Performa Jadi Penopang Pengalaman Foldable
Kemampuan tersebut tentu tidak berdiri sendiri. Samsung juga meningkatkan sisi perangkat keras untuk menopang berbagai aktivitas yang semakin kompleks.
Galaxy Z Fold8 ditenagai Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy yang menggabungkan kemampuan CPU, GPU, dan NPU untuk mendukung multitasking, konsumsi konten serta pengalaman Galaxy AI.
Samsung juga memberikan dukungan pembaruan OS dan keamanan hingga tujuh generasi pada Galaxy Z Fold8.
Sementara pada Galaxy Z Flip8, Samsung mencatat peningkatan performa dibandingkan generasi sebelumnya. CPU disebut meningkat 30 persen, GPU 25 persen, sedangkan kemampuan AI melalui NPU meningkat 41 persen dibandingkan Galaxy Z Flip7.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa evolusi smartphone lipat tidak berhenti pada mekanisme engsel atau ukuran perangkat ketika dilipat.
Ada bagian lain yang ikut berkembang, yakni kemampuan perangkat dalam menangani berbagai aktivitas dalam waktu bersamaan.
Foldable Mulai Menyesuaikan Diri dengan Penggunanya
Tujuh generasi pengembangan Galaxy Z Series membawa Samsung pada fase ketika smartphone lipat tidak lagi sekadar menawarkan pengalaman berbeda karena dapat dilipat.
Galaxy Z8 Series mencoba membagi pengalaman berdasarkan bagaimana perangkat digunakan.
Galaxy Z Fold8 lebih diarahkan untuk pengguna yang membutuhkan ruang kerja luas, multitasking, produktivitas dan kreativitas.
Sebaliknya, Galaxy Z Flip8 menawarkan pengalaman yang lebih praktis melalui FlexWindow sehingga pengguna dapat berinteraksi dengan perangkat tanpa harus selalu membukanya.
Pada akhirnya, perkembangan Galaxy Z8 Series memperlihatkan perubahan cara industri memandang smartphone.
Bukan lagi hanya tentang membuat perangkat lebih tipis, lebih cepat atau memiliki layar lebih besar.
Tantangannya kini adalah membuat teknologi mampu mengikuti ritme manusia.
Saat aktivitas pengguna semakin padat dan berpindah-pindah, smartphone dituntut bukan hanya mampu menjalankan perintah, tetapi juga membantu mengurangi langkah yang harus dilakukan.


















Discussion about this post