KALTARAUPDATE.COM, TANJUNG SELOR – Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) tidak hanya berfokus pada rehabilitasi ekosistem mangrove di Kalimantan Utara (Kaltara), tetapi juga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat pesisir melalui pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal.
Melalui keterlibatan kelompok masyarakat, program ini menghubungkan upaya pemulihan kawasan mangrove dengan penguatan sumber penghidupan warga. Sejumlah kelompok masyarakat di Kabupaten Tana Tidung mulai merasakan manfaat program tersebut, mulai dari budidaya perikanan hingga pengembangan produk olahan lokal.
PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara, Akhmad Ashar Sarif, menjelaskan keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari luasan mangrove yang berhasil direhabilitasi.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam proses pemulihan ekosistem serta manfaat ekonomi yang dirasakan warga menjadi bagian penting dari pelaksanaan M4CR.
“Bagi kami, penting memastikan masyarakat menjadi bagian dari proses pemulihan mangrove sekaligus merasakan manfaat dari program ini. Karena itu, M4CR tidak hanya mendukung kegiatan rehabilitasi, tetapi juga memperkuat kapasitas kelompok dan mengembangkan potensi usaha masyarakat di sekitar kawasan pesisir,” ujar Akhmad.
Salah satu bentuk pelaksanaan program tersebut terlihat di Desa Tanah Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung.
Di wilayah ini, kelompok masyarakat Mekar Abadi dan Tunas Abadi Jaya mengembangkan budidaya udang dan ikan bandeng menggunakan sistem silvofishery.
Sistem tersebut mengintegrasikan kegiatan budidaya perikanan dengan keberadaan ekosistem mangrove. Dengan demikian, aktivitas produksi tambak tetap memperhatikan fungsi mangrove sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.
Kedua kelompok masyarakat itu juga terlibat langsung dalam kegiatan rehabilitasi mangrove.
Kelompok Mekar Abadi telah melakukan penanaman pada area seluas 133 hektare, sedangkan Tunas Abadi Jaya melakukan penanaman pada area seluas 130 hektare.
Secara keseluruhan, kedua kelompok tersebut telah melakukan penanaman lebih dari 210 ribu bibit mangrove.
Tidak hanya mendukung kegiatan rehabilitasi, M4CR juga memberikan dukungan sarana produksi melalui skema *matching grant* untuk menunjang aktivitas budidaya perikanan yang dikembangkan kelompok masyarakat.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu kelompok mengembangkan usaha secara berkelanjutan tanpa mengabaikan kelestarian ekosistem mangrove.
Manfaat program M4CR juga dirasakan kelompok masyarakat di wilayah lain Kabupaten Tana Tidung melalui pengembangan usaha produktif.
Salah satunya KUKT Inggilad Taka di Desa Tengku Dacing. Kelompok ini mengembangkan kerajinan berbahan bambu yang diolah menjadi kipas tangan dengan sentuhan batik.
Produk tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan potensi lokal yang dikembangkan menjadi barang bernilai ekonomi.
Sementara itu, di Desa Bebatu, kelompok LPHD Bebatu mengembangkan produksi minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) dengan memanfaatkan potensi kelapa yang tersedia di wilayah setempat.
Kedua kelompok tersebut memperoleh dukungan peralatan produksi dari M4CR melalui program matching grant.
Bantuan peralatan itu ditujukan untuk menunjang proses produksi sehingga kegiatan usaha masyarakat dapat berjalan lebih baik dan memiliki peluang untuk terus dikembangkan.
Pengembangan usaha berbasis potensi lokal tersebut menjadi bagian dari pendekatan M4CR dalam memperkuat sumber penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan mangrove.
Dengan demikian, rehabilitasi mangrove tidak hanya memberikan dampak terhadap pemulihan lingkungan, tetapi juga diharapkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Di Provinsi Kalimantan Utara, M4CR menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 14.576 hektare hingga 2027.
Hingga pelaksanaan program, realisasi penanaman telah mencapai 4.443 hektare dengan jumlah bibit lebih dari 3,5 juta pohon jenis Rhizophora.
Kegiatan tersebut juga melibatkan sebanyak 1.354 masyarakat setempat.
Capaian itu menjadi bagian dari upaya mempercepat pemulihan ekosistem mangrove di Kaltara dengan menempatkan masyarakat sebagai salah satu unsur penting dalam pelaksanaannya.
Melalui pendekatan berbasis komunitas, M4CR berupaya memastikan kawasan mangrove yang dipulihkan dapat memberikan manfaat jangka panjang, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.
Mangrove yang terjaga diharapkan mampu mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir sekaligus menjadi bagian dari sumber penghidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada kawasan tersebut.
Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) merupakan inisiatif strategis nasional untuk mengatasi degradasi ekosistem mangrove di Indonesia melalui rehabilitasi skala besar dengan pendekatan berbasis komunitas dan keberlanjutan lingkungan.
Pelaksanaan program ini berlangsung di empat provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara, dengan target rehabilitasi seluas 32.634 hektare hingga 2027.
M4CR dikelola Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH).
Pelaksanaannya didukung sejumlah kementerian dan lembaga terkait, di antaranya Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), serta pemerintah daerah.
Program tersebut juga didanai melalui kerja sama dengan World Bank.
Mengusung kampanye “Mangrove untuk Masa Depan”, M4CR tidak hanya diarahkan untuk memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga memperkuat perlindungan masyarakat dari dampak perubahan iklim serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis mangrove secara berkelanjutan.

















Discussion about this post