KALTARAUPDATE– Penyaluran bantuan pangan di Kelurahan Sebengkok, Kota Tarakan, pada Mei 2026 berjalan dengan lancar. Namun, di balik proses penyaluran tersebut, pemerintah kelurahan menghadapi kendala dalam memastikan keberadaan sebagian penerima bantuan yang tercatat dalam data.
Dari total 2.389 penerima bantuan pangan yang tercatat di Kelurahan Sebengkok, sebanyak 633 penerima masuk dalam kategori RT 0.
Data RT 0 tersebut menjadi persoalan tersendiri karena identitas penerima tercatat, namun alamat atau keberadaan penerima tidak diketahui secara jelas di lingkungan RT mana mereka tinggal.
Lurah Sebengkok, Dhimas Clara Permana, mengatakan pihak kelurahan tidak memiliki data jumlah penerima pengganti secara khusus. Data yang tersedia di kelurahan justru menunjukkan jumlah penerima yang masuk dalam kategori RT 0.
“Data jumlah pengganti kami nggak ada. Yang ada di kami data jumlah RT 0 saja, yaitu data yang tidak diketahui, datanya kurang jelas, tidak tahu ada di RT mana tinggalnya,” ujar Dhimas.
Menurutnya, dari total 2.389 penerima bantuan, sebanyak 633 penerima tercatat sebagai RT 0.
“Jadi kemarin dari 2.389 penerima bantuan, sebanyak 633 penerima bantuan tercatat RT 0,” jelasnya.
Bantuan CPP untuk Alokasi Februari-Maret
Dhimas menjelaskan bantuan tersebut merupakan bagian dari penyaluran bantuan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) melalui program bantuan pangan.
Bantuan yang disalurkan di Kelurahan Sebengkok merupakan alokasi untuk periode Februari-Maret 2026.
“Ini kemarin kita bantuan pangan ya, penyaluran bantuan CPP, program pangan, itu kemarin alokasinya untuk bulan Februari-Maret 2026,” kata Dhimas.
Penyaluran dilakukan selama hampir satu pekan, yakni mulai 25 Mei hingga 30 Mei 2026.
Agar proses pembagian tidak menimbulkan penumpukan warga di kantor kelurahan, jadwal pengambilan dibuat berdasarkan kelompok RT.
“Kemarin pelaksanaannya tanggal 25 Mei sampai dengan satu minggu ya, sampai dengan 30 Mei itu,” ujarnya.
Menurut Dhimas, jumlah penerima yang harus dilayani cukup besar sehingga diperlukan pengaturan jadwal.
Bantuan yang tersedia saat itu mencapai lebih dari 1.800 paket yang harus disalurkan kepada penerima.
“Jadi kemarin kami bagi per wilayah, supaya tidak menumpuk. Kemarin kan bantuan pangannya sampai berapa itu? Seribu delapan ratus sekian gitu. Dapat bantuan, itu sangat banyak,” ungkapnya.
Bulog Bantu Kelancaran Penyaluran
Dalam proses penyaluran, Kelurahan Sebengkok mendapat dukungan dari Perum Bulog, terutama karena jumlah penerima cukup banyak sementara lokasi kantor kelurahan terbatas.
Dhimas mengatakan keberadaan kantor kelurahan yang berdekatan dengan Bulog menjadi keuntungan tersendiri dalam proses distribusi.
Ia mengaku khawatir jika seluruh bantuan dengan jumlah lebih dari 1.800 paket harus ditumpuk sekaligus di kantor kelurahan.
“Dan kami alhamdulillah ini sangat terbantu oleh teman-teman Bulog. Karena kami kantor dekat. Kalau seribu delapan ratus apa itu ditaruh di sini semua, wah selesai ini ruangan,” katanya.
Karena itu, pihak Bulog turut membantu proses penyaluran sehingga distribusi bantuan kepada masyarakat dapat dilakukan lebih teratur.
“Alhamdulillah teman-teman Bulog kemarin kami dibantu oleh teman-teman Bulog dalam penyalurannya,” ujar Dhimas.
Jadwal Dibagi Berdasarkan RT
Untuk menghindari antrean panjang, penerima bantuan tidak diminta datang secara bersamaan.
Pada 25 Mei 2026, penyaluran diperuntukkan bagi warga dari RT 1 hingga RT 8.
Kemudian pada 26 Mei, giliran penerima dari RT 9 sampai RT 17.
Pada 27 Mei, penyaluran dilanjutkan untuk RT 18 sampai RT 25.
Sementara pada 28 Mei, penerima dari RT 26 sampai RT 34 mendapat giliran mengambil bantuan.
“Tanggal 25 itu kemarin RT 1 sampai RT 8. Terus hari Selasa tanggal 26 itu RT 9 sampai 17. Tanggal 27 Mei itu RT 18 sampai dengan 25. Lalu tanggal 28 Mei itu RT 26 sampai dengan 34,” jelas Dhimas.
Sedangkan dua hari terakhir, yakni 29 dan 30 Mei, diberikan kesempatan kepada warga yang belum sempat mengambil bantuan sesuai jadwal.
“Khusus hari Jumat dan Sabtu, kemarin 29 dan 30 Mei itu warga yang mengganti. Dua hari ya untuk warga pengganti?” tanya pewawancara.
“Ya, ada dua hari. Kami kemarin kasih kesempatan warga yang belum ngambil juga,” jawab Dhimas.
Warga yang sebelumnya tidak sempat hadir atau melewatkan jadwal diberikan kesempatan mengambil bantuan pada dua hari tersebut.
633 Penerima RT 0 Jadi Kendala Utama
Di antara berbagai persoalan dalam penyaluran, Dhimas menyebut penerima dengan status RT 0 menjadi bagian yang cukup menyulitkan.
Pihak kelurahan harus memastikan terlebih dahulu apakah penerima tersebut masih berdomisili di Sebengkok atau sudah berpindah tempat tinggal.
Data penerima RT 0 kemudian disebarkan kepada para ketua RT untuk membantu melacak keberadaan warga.
“RT 0 itu kami sebar ke ketua RT untuk mendeteksi ini, namanya ini, NIK-nya ini. Tolong dicari warganya. Kalau ada namanya sama, cek NIK-nya. Kalau NIK-nya sudah anu, baru mereka laporkan,” jelas Dhimas.
Setelah dilakukan pengecekan, penerima yang masih ditemukan dapat diarahkan untuk mengambil bantuan pada jadwal yang tersedia.
Namun, apabila penerima sudah tidak diketahui keberadaannya, sudah pindah domisili, atau meninggal dunia, maka bantuan tersebut dapat dialihkan kepada penerima pengganti.
“Kalau pengganti ini yang khususnya yang tidak diketemukan. Orangnya nggak ada, terus domisilinya sudah pindah. Terus mungkin juga ada yang meninggal, itu bisa digantikan,” ungkapnya.
Penerima Pengganti Diprioritaskan Warga Kurang Mampu
Dalam menentukan penerima pengganti, Kelurahan Sebengkok juga mendapat arahan agar warga yang dipilih benar-benar membutuhkan bantuan.
Dhimas membenarkan adanya pesan agar penerima pengganti berasal dari kelompok masyarakat yang masuk kategori kurang mampu dan belum mendapatkan bantuan.
“Ya betul, ada pesan seperti itu,” katanya.
Menurutnya, ketua RT memiliki peran penting dalam menentukan warga yang layak diprioritaskan karena mereka lebih mengetahui kondisi masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Cuman kan pasti ketua RT tahu lah, warga yang dianggap kurang mampu,” ujar Dhimas.
Namun, bukan hanya warga kurang mampu yang menjadi perhatian. Pihak kelurahan meminta agar penerima pengganti merupakan masyarakat yang selama ini belum tersentuh program bantuan.
“Dianggap kurang mampu tapi memang belum tersentuh oleh bantuan itu. Dan itu harapannya yang diutamakan. Kami minta ketua RT untuk bisa mendudukkan yang seperti itu,” jelasnya.
Dhimas mengaku belum mengetahui secara pasti berapa jumlah penerima pengganti yang akhirnya berhasil ditetapkan karena data tersebut masih akan disusulkan.
Bukan Karena Penerima Sudah Mampu
Terkait alasan penerima bantuan harus digantikan, Dhimas mengatakan sebagian besar bukan karena penerima sudah mengalami perubahan kondisi ekonomi menjadi lebih baik.
Persoalan utamanya lebih banyak berkaitan dengan keberadaan dan domisili penerima.
Ketua RT akan melakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum seseorang dinyatakan tidak dapat menerima bantuan.
“Kalau ketua RT ini bisa dikatakan memang sudah tidak diketahui ya. Kalaupun masih diketahui pasti dikonfirmasi dulu. Kalau sudah pindah pun juga dikonfirmasi dulu,” katanya.
Jika setelah dilakukan pengecekan penerima memang tidak dapat ditemukan, barulah bantuan tersebut dapat dialihkan.
“Mau nggak ada juga yang nggak usah lah. Akhirnya kalau sudah dikonfirmasi seperti itu baru bisa digantikan ke yang lain,” ujar Dhimas.
Ia mengatakan salah satu persoalan paling sulit adalah ketika kontak penerima sudah tidak dapat dihubungi dan keberadaannya tidak diketahui.
“Rata-rata hilang kontaknya? Iya, kontaknya sudah tidak ada. Tidak tahu dihubungin ke mana lagi, tidak ada. Sudah tidak tinggal, kontaknya juga tidak ada. Ini yang susah,” ungkapnya.
Penerima yang Tak Ditemukan Dialihkan ke RT Lain
Untuk bantuan yang tidak dapat disalurkan karena penerimanya sudah tidak ditemukan, pihak kelurahan tidak membiarkan kuota tersebut kosong.
Kelurahan berkoordinasi dengan para ketua RT untuk mencari warga lain yang membutuhkan dan belum memperoleh bantuan.
“Ya dijadikan pengganti di RT yang lain. Yang kita tanya RT-nya mana yang belum dapat, membutuhkan, gitu. Kita drop ke sana,” jelas Dhimas.
Dengan mekanisme tersebut, bantuan yang tersedia tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan.
Profesi Warga Sebengkok Beragam
Dhimas mengatakan karakteristik masyarakat Sebengkok cukup beragam. Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah kawasan yang secara geografis maupun mata pencaharian masyarakatnya lebih didominasi profesi tertentu.
Di Sebengkok, masyarakat memiliki latar belakang pekerjaan yang beragam, mulai dari aparatur sipil negara, nelayan, hingga pekerja di sektor lainnya.
“Macam-macam ya, dari latar belakang profesi ini sangat beragam. ASN, nelayan, teknologi informasi, lainnya. Kuliner. Iya macam-macam sekali di sini, beragam sekali,” katanya.
Keragaman profesi tersebut juga membuat struktur ekonomi masyarakat Sebengkok cukup beragam.
“Namanya struktur ekonominya juga sangat beragam juga. Ada yang atas sekali, ada yang bawah sekali juga,” ujar Dhimas.
Artinya, masyarakat dengan kondisi ekonomi berbeda-beda hidup berdampingan di kawasan tersebut.
“Bercampur ya Pak? Bercampur,” jawabnya.
Untuk profesi petambak, Dhimas menyebut jumlahnya tidak terlalu banyak.
“Kalau petambak tidak terlalu banyak,” katanya.
Keterbatasan Personel Jadi Kendala Penyaluran
Selain persoalan data penerima RT 0, pelaksanaan penyaluran bantuan pangan juga memiliki kendala dari sisi sumber daya manusia.
Dhimas mengatakan jumlah personel di kelurahan terbatas, sementara proses penyaluran membutuhkan cukup banyak petugas karena menggunakan aplikasi.
“Kendala kami kemarin memang. Kalau tempat alhamdulillah ya. Kendala tempat ini teman-teman dari Bulog sudah sangat membantu,” ujarnya.
Untuk persoalan tempat, keberadaan Bulog sangat membantu. Namun, dari sisi personel, kelurahan memang memiliki keterbatasan.
“Personel juga, kami kurang personel kan. Itu kan harus pakai aplikasi,” katanya.
Dhimas membandingkan dengan penyaluran sebelumnya yang pernah dilakukan pada sekitar November atau Desember. Saat itu, jumlah petugas yang menangani hanya sekitar satu hingga dua orang.
“Kalau dari kami aja kemarin, yang bulan apa kemarin tuh? Yang tahun lalu, bulan November atau Desember itu kemarin. Itu hanya satu-dua orang aja kami. Susah,” ungkapnya.
Kondisi berbeda terjadi pada penyaluran kali ini karena Bulog memberikan dukungan personel.
“Alhamdulillah kalau kemarin di Bulog sampai tiga meja dibuka. Masing-masing meja ada dua orang, dua orang, dua orang gitu. Alhamdulillah cepat,” katanya.
Keberadaan petugas Bulog yang sudah terbiasa dengan sistem juga membantu mempercepat proses pelayanan.
“Dan mereka sudah, sistem juga sudah paham. Sudah tahu. Jadi ya alhamdulillah untuk kendala tempat oke, teratasi. Dari SDM juga alhamdulillah Bulog juga backup,” jelas Dhimas.
Lebih dari 1.800 Bantuan Berhasil Disalurkan
Dengan pengaturan jadwal dan dukungan dari Bulog, proses penyaluran bantuan pangan di Kelurahan Sebengkok akhirnya dapat diselesaikan.
Dhimas memastikan bantuan yang tersedia telah tersalurkan kepada masyarakat.
“Sudah selesai semua, alhamdulillah aman semuanya,” tegasnya.
Artinya, bantuan yang berjumlah lebih dari 1.800 paket tersebut berhasil disalurkan setelah melalui proses verifikasi penerima, penjadwalan berdasarkan RT, hingga penyelesaian data penerima yang tidak ditemukan.
Sementara untuk penerima yang tidak dapat ditemukan, mekanisme penggantian dilakukan dengan mencari warga yang membutuhkan di RT lain.
Bantuan Beras 20 Kilogram dan Minyak 2 Liter
Dhimas menjelaskan bantuan pangan yang disalurkan kali ini memiliki bentuk bantuan yang sama dengan program sebelumnya.
Bantuan terdiri dari beras sebanyak 20 kilogram dan minyak goreng sebanyak 2 liter untuk setiap penerima.
“Ini bantuan pertama kali atau sama seperti sebelumnya?” tanya pewawancara.
“Sama seperti sebelumnya, sama seperti tahun lalu, ya akhir bulan itu, akhir tahun itu,” jawab Dhimas.
“Bantuannya beras sama minyak ya. Berasnya 20 kilo ya kemarin itu, karena dibagi per 5 kiloan, itu ada empat, terus sama minyaknya itu 2 liter,” jelasnya.
Ada Potensi Penyaluran Lagi pada Agustus
Setelah penyaluran tahap ini selesai, masyarakat Sebengkok masih berpeluang kembali mendapatkan bantuan pangan pada tahap berikutnya.
Dhimas mengatakan berdasarkan informasi yang diterimanya dari Bulog, kemungkinan terdapat penyaluran lanjutan pada Agustus 2026.
“Kayaknya ada lagi nih nanti. Kita tunggu info dari Bulog ini bulan 8 nih, harusnya sebentar lagi nih,” ujarnya.
Ia menyebut kemungkinan penyaluran berikutnya masih menunggu informasi resmi dari Bulog.
“Sekitar bulan itu mungkin ya. Kayaknya ada tahap berikutnya. Dari Bulog kemarin waktu kami ketemu, insyaallah siap-siap aja nanti ini,” kata Dhimas.
Karena bantuan pangan dinilai sangat dibutuhkan masyarakat, pihak kelurahan berharap program tersebut dapat kembali direalisasikan.
“Kita tunggu sih. Bantuan ini memang sangat dibutuhkan ya oleh warga ini. Mudah-mudahan lah bisa realisasi bantuan berikutnya,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya penyaluran bantuan pangan tersebut, Kelurahan Sebengkok juga masih akan menindaklanjuti data penerima pengganti serta melakukan pembaruan informasi terhadap penerima yang sebelumnya masuk kategori RT 0.
Bagi kelurahan, persoalan akurasi data menjadi salah satu kunci agar bantuan berikutnya dapat lebih tepat sasaran dan tidak kembali terkendala oleh penerima yang sudah pindah, meninggal dunia, maupun tidak lagi dapat dihubungi. (Advetorial)





















Discussion about this post