KALTARAUPDATE.COM– Kawasan kuliner di Kelurahan Sebengkok, Kecamatan Tarakan Tengah, Kota Tarakan, kini menjadi salah satu titik yang ramai dimanfaatkan pelaku usaha untuk berjualan makanan dan minuman.
Deretan rombong kuliner yang berada di kawasan tersebut membuat aktivitas ekonomi masyarakat semakin terlihat, terutama pada waktu-waktu tertentu ketika warga datang untuk membeli makanan.
Namun, di balik ramainya kawasan kuliner tersebut, jumlah rombong yang tersedia ternyata sudah mencapai kapasitas maksimal.
Lurah Sebengkok, Dhimas Clara Permana mengatakan saat ini terdapat 44 rombong yang menempati kawasan kuliner tersebut.
“Untuk kawasan kuliner Sebengkok, maksudnya umum kuning yang dikelola, sebenarnya dikelola oleh Kecamatan Tarakan Tengah ya, pengelola-pengelolanya. Kami sebagai panjang antara dari kecamatan, kami juga turut aktif membantu operasional pelaksanaan kawasan kuliner Sebengkok,” ujar Dhimas.
Menurutnya, pengelolaan kawasan tersebut berada di bawah Kecamatan Tarakan Tengah. Sementara Kelurahan Sebengkok ikut membantu dalam hal operasional, terutama menyangkut ketertiban, kebersihan dan keamanan lingkungan sekitar.
Dhimas memastikan saat ini seluruh slot rombong yang disediakan di kawasan kuliner tersebut sudah terisi. Kondisi tersebut membuat peluang bagi pelaku UMKM lain yang ingin ikut berjualan di kawasan tersebut menjadi terbatas. Padahal, menurut Dhimas, peminat untuk mendapatkan tempat berjualan cukup banyak.
“Banyak sekali yang berminat untuk jualan di situ,” ungkapnya.
Tidak sedikit warga yang datang dan meminta agar bisa mendapatkan tempat untuk berjualan di kawasan kuliner tersebut.
Namun, pihak kelurahan belum dapat memberikan tambahan tempat karena kapasitas yang tersedia memang sudah penuh.
“Cuma kami juga belum bisa ngasih ya, belum bisa ngasih,” jelas Dhimas.
Menurutnya, peluang baru dapat diberikan apabila salah satu rombong yang saat ini ditempati sudah tidak digunakan lagi oleh pemiliknya.
“Itu nanti kalau pemilik rombong, salah satu pemilik rombong misalnya, Pak, kami sudah selesai, misalnya kami sudah pindah, kosong, itu baru bisa kita alihkan,” katanya.
Dengan demikian, kelurahan maupun kecamatan belum dapat menambah jumlah rombong di luar 44 unit yang tersedia saat ini.
Keberadaan rombong kuliner tersebut berada di sepanjang kawasan tertentu di Kelurahan Sebengkok dan membentang cukup panjang.
Dhimas menyebut kawasan tersebut dimulai dari sekitar jembatan hingga kawasan di depan SDN 020.Kawasan tersebut cukup panjang dan rombong berada di sisi kiri dan kanan.
Keberadaan 44 rombong di kawasan tersebut menjadikan lokasi itu sebagai salah satu titik aktivitas ekonomi masyarakat di tengah kawasan permukiman Sebengkok.
Selain persoalan kapasitas, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kebersihan di sekitar kawasan kuliner.
Dhimas mengatakan sudah ada petugas kebersihan yang ditugaskan untuk membersihkan area kawasan tersebut.
“Untuk petugas keberadaan sebenarnya sudah ada. Jadi sudah ada yang ditugaskan dua orang untuk membersihkan di area sekitar tersebut,” katanya.
Petugas tersebut ditugaskan oleh pihak Kecamatan Tarakan Tengah sebagai pengelola kawasan.
Namun, keberadaan petugas kebersihan bukan berarti seluruh persoalan sampah menjadi tanggung jawab petugas.
Dhimas meminta setiap pemilik rombong ikut menjaga kebersihan di sekitar tempat usahanya masing-masing.
“Namun demikian, kita juga mengimbau para pemilik rombong supaya juga membersihkan kebersihan di lingkungan area sekitar rombong masing-masing,” ujarnya.
Artinya, kebersihan kawasan kuliner diharapkan menjadi tanggung jawab bersama antara pengelola, petugas kebersihan dan para pelaku usaha.
“Selebihnya nanti dari teman-teman petugas kebersihan yang sudah ditugaskan oleh Pak Camat, Camat Tarakan Tengah, itu nanti mereka yang akan membantu untuk kebersihannya,” jelas Dhimas.
<Selain kebersihan, Kelurahan Sebengkok juga memberikan imbauan agar pemilik rombong tidak memperluas atau menambah bangunan di luar fasilitas yang sudah disediakan.Menurut Dhimas, kawasan tersebut pada dasarnya telah ditata dengan konsep rombong.
“Ya, kami juga imbau supaya jaga kebersihan, terus jangan lagi menambah-nambah bangunan-bangunan lain gitu ya,” katanya.
Namun, di lapangan masih ditemukan aktivitas pemilik rombong yang membawa perlengkapan tambahan, terutama bagi pedagang yang menggunakan kompor untuk memasak.Persoalan tersebut menjadi perhatian karena aktivitas memasak tertentu dilakukan di luar area rombong.
Dhimas menyebut kondisi tersebut cukup sulit dihindari karena ada pedagang yang memang menjual makanan dengan proses pembakaran atau aktivitas memasak langsung.
Karena itu, ia menilai yang paling penting adalah seluruh pelaku usaha tetap memperhatikan aspek keselamatan dan ketertiban.
“Betul. Yang penting ya di situ bisa aman lah, bisa tertib. Ya sama-sama lah,” pungkasnya. (Advetorial)





















Discussion about this post