KALTARAUPDATE.COM – Perkembangan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Provinsi Kalimantan Utara terus menunjukkan tren positif hingga akhir 2025, meski laju pertumbuhannya mulai mengalami perlambatan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, mengungkapkan bahwa hingga Desember 2025, jumlah pengguna QRIS di Kaltara telah mencapai sekitar 131 ribu pengguna, atau tumbuh 8,1 persen dibandingkan periode sebelumnya.
“Memang ada sedikit tren perlambatan pertumbuhan, tapi jumlah pengguna tetap meningkat. Ini wajar, karena potensi pasar dari waktu ke waktu semakin mengecil. Namun tetap tumbuh positif dan ini sangat baik, apalagi didominasi oleh pengguna baru,” ujar Hasiando.
Hasiando menjelaskan, bila dibandingkan dengan jumlah penduduk usia produktif di Kalimantan Utara, tingkat penetrasi QRIS saat ini masih berada di kisaran 25 persen.
“Jumlah penduduk usia produktif di Kaltara kurang lebih 392 ribu jiwa, sementara pengguna QRIS baru sekitar 131 ribu–132 ribu. Selisih inilah potensi besar yang terus kami kejar,” jelasnya.
Namun, Bank Indonesia mengakui upaya perluasan QRIS di Kaltara tidak semudah di daerah lain, mengingat kondisi geografis wilayah yang unik.
“Kaltara memiliki wilayah daratan dan kepulauan yang terpisah, luas wilayah besar dengan jumlah penduduk relatif sedikit. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong digitalisasi sistem pembayaran,” tambahnya.
Data Bank Indonesia mencatat, jumlah pengguna QRIS di Kalimantan Utara meningkat signifikan dari sekitar 82.954 pengguna pada 2023, menjadi 121.437 pengguna pada 2024, dan kembali naik menjadi 131.252 pengguna pada 2025.
Meski secara tahunan laju pertumbuhan mengalami perlambatan, jumlah pengguna QRIS tetap bertambah setiap tahun.
Pada 2023, pertumbuhan pengguna QRIS tercatat sangat tinggi hingga 110,2 persen. Memasuki 2024, pertumbuhan melambat menjadi 40,0 persen, dan kembali melandai pada 2025 dengan pertumbuhan 8,1 persen year on year (YoY).
Bank Indonesia menilai tren perlambatan ini sebagai kondisi yang wajar, seiring semakin besarnya basis pengguna QRIS di daerah.
Hingga akhir 2025, total pengguna QRIS di Kalimantan Utara telah mencapai sekitar 131 ribu pengguna. Namun demikian, tingkat penetrasi QRIS terhadap penduduk usia produktif masih berada di kisaran 25 persen.
Dengan jumlah penduduk usia produktif di Kalimantan Utara yang mencapai sekitar 392 ribu jiwa, masih terdapat potensi pasar yang cukup besar untuk terus dikembangkan.
Dari sisi sebaran wilayah, jumlah penduduk usia produktif terbesar berada di Kota Tarakan dengan sekitar 175 ribu jiwa, disusul Kabupaten Nunukan sekitar 154 ribu jiwa, dan Kabupaten Bulungan sekitar 118 ribu jiwa.
Sementara itu, Kabupaten Malinau memiliki sekitar 61 ribu jiwa, dan Kabupaten Tana Tidung sekitar 12 ribu jiwa penduduk usia produktif.
Bank Indonesia menilai potensi pengembangan QRIS di Kalimantan Utara masih sangat terbuka, meski dihadapkan pada tantangan geografis wilayah yang luas, terdiri dari daratan dan kepulauan, dengan sebaran penduduk yang tidak merata. (SL)

















Discussion about this post