KALTARAUPDATE.COM – Universitas Terbuka (UT) Tarakan mendorong penguatan sumber daya manusia (SDM) di Kalimantan Utara agar mampu menghadapi ketidakpastian zaman, perkembangan teknologi, hingga persaingan dunia kerja.
Pesan tersebut mengemuka dalam seminar bertajuk “Membangun Beranda Nusantara dengan SDM yang Berdampak dan Berdaya Saing” yang digelar Universitas Terbuka Tarakan di TACC Tarakan, Sabtu (22/8/2026). Kegiatan seminar rangkaian dari kegiatan jelang wisuda UT yang akan dilaksanakan pada Minggu (23/8/2026) esok pagi.
Direktur Universitas Terbuka Tarakan, Jeji Muhamad Najib, mengatakan tema seminar tersebut sangat relevan dengan posisi Kalimantan Utara sebagai wilayah strategis yang menjadi salah satu beranda terdepan Indonesia.
Menurutnya, pembangunan Kaltara tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur maupun pemanfaatan sumber daya alam. Pembangunan juga harus dibarengi dengan kesiapan manusia yang mampu mengisi dan menggerakkan pembangunan tersebut.
“Kalimantan Utara merupakan salah satu wilayah yang memiliki posisi strategis sebagai beranda terdepan Indonesia. Karena itu, tantangan pembangunan yang kita hadapi bukan hanya bagaimana membangun infrastruktur, tetapi juga bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengisi dan menggerakkan pembangunan tersebut,” ujar Jeji.
Ia menilai perubahan dunia berlangsung sangat cepat. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah peristiwa dapat mengubah kehidupan masyarakat secara global dan memunculkan kondisi yang sebelumnya sulit diprediksi.
Dari kondisi tersebut, kata Jeji, masyarakat perlu memahami bahwa ketidakpastian merupakan bagian dari kehidupan.
“Kalau semuanya tidak pasti, maka sebenarnya semuanya menjadi mungkin. Pertanyaannya kemudian, kita mau menjadi apa dan mau mengambil posisi seperti apa dalam perubahan tersebut?” katanya.
Jeji menegaskan, jawaban atas tantangan tersebut sangat bergantung pada kesiapan setiap individu dalam meningkatkan kemampuan dan kualitas dirinya.
Karena itu, pendidikan menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi perubahan.
UT, lanjutnya, hadir memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tinggi melalui sistem yang fleksibel, terbuka dan mampu menjangkau masyarakat di berbagai wilayah.
Khusus di Kaltara, akses pendidikan tinggi masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kondisi geografis, jarak antardaerah, keterbatasan akses hingga perkembangan teknologi.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya berada di pusat-pusat perkotaan. Pendidikan tinggi harus semakin dekat dengan masyarakat,” tegasnya.
Melalui sistem pembelajaran jarak jauh dan dukungan teknologi, UT berupaya membuka kesempatan bagi masyarakat di daerah untuk menempuh pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan tempat tinggal maupun pekerjaan.
Namun, kesempatan tersebut menurut Jeji harus dibarengi dengan kemandirian mahasiswa.
Ia menekankan tiga karakter yang harus dimiliki mahasiswa UT, yakni mandiri, disiplin dan memiliki motivasi.
“Menjadi mahasiswa Universitas Terbuka berarti belajar menjadi pribadi yang mandiri. Mahasiswa tidak bisa hanya menunggu dosen memberikan materi. Mahasiswa harus memiliki kemauan untuk membaca, mencari informasi, berdiskusi, mengembangkan kemampuan, dan mengatur waktu belajarnya sendiri,” jelasnya.
Mandiri, menurutnya, bukan berarti seseorang tidak membutuhkan orang lain. Kemandirian merupakan kemampuan menentukan pilihan sekaligus bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut.
Sementara disiplin berkaitan dengan kemampuan mengelola waktu dan menjalankan tanggung jawab secara konsisten. Adapun motivasi menjadi energi untuk terus bergerak meski menghadapi berbagai kesulitan.
Ketiga hal tersebut dinilai menjadi modal penting mahasiswa ketika nantinya memasuki dunia kerja maupun dunia usaha.
Sebab, kata Jeji, dunia kerja saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan ijazah.
Kemampuan, kompetensi, kreativitas, kemampuan beradaptasi dan keberanian menghadapi perubahan menjadi bagian penting yang harus dimiliki lulusan perguruan tinggi.
Terlebih saat ini masyarakat telah memasuki era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) .
Jeji mengatakan perkembangan AI tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman. Teknologi tersebut juga membuka ruang baru bagi masyarakat untuk belajar, bekerja, membangun usaha, menciptakan karya hingga menyelesaikan berbagai persoalan.
“Mahasiswa jangan takut terhadap perkembangan teknologi. Justru kita harus belajar memanfaatkannya,” katanya.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi dan menciptakan nilai tambah melalui pemanfaatan teknologi.
SDM Jadi Kunci Hilirisasi Sumber Daya Alam
Dalam seminar tersebut, Jeji juga menyoroti besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki Kalimantan Utara.
Mulai dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan, energi hingga pertambangan menjadi kekayaan yang dapat menjadi modal pembangunan daerah.
Namun, menurutnya, kekayaan sumber daya alam tidak akan cukup apabila tidak diiringi kemampuan menciptakan nilai tambah.
“Jangan sampai bahan baku dari Indonesia dikirim ke negara lain, kemudian diolah menjadi produk bernilai tinggi dan kembali dijual kepada kita dengan harga yang jauh lebih mahal,” ujarnya.
Ia menilai tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar memiliki sumber daya alam, melainkan bagaimana sumber daya tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi oleh SDM Indonesia.
Pandangan serupa disampaikan Prof. Dr. Maximus Gorky Sembiring, M.Sc., Guru Besar FKIP Universitas Terbuka, dalam pemaparannya mengenai pembangunan SDM yang mandiri, inovatif dan berdaya saing.
Menurut Maximus, kekuatan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki suatu wilayah atau negara.
Kemampuan menggabungkan pendidikan, inovasi, teknologi dan jaringan justru menjadi faktor penting dalam menciptakan nilai tambah.
“Yang menentukan bukan hanya siapa yang memiliki bahan baku, tetapi siapa yang mampu mengolah, mengembangkan, dan menciptakan nilai tambah,” kata Maximus.
Ia mencontohkan sejumlah negara yang mampu membangun kekuatan ekonominya meski tidak memiliki sumber daya alam sebesar Indonesia.
Menurutnya, kekuatan tersebut lahir dari kemampuan mengolah sumber daya melalui pengetahuan, teknologi, inovasi serta jaringan yang kuat.
Karena itu, Indonesia dinilai tidak boleh berhenti pada eksploitasi dan penjualan bahan mentah.
Hilirisasi harus menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam sehingga manfaatnya dapat kembali dirasakan masyarakat.
Mahasiswa Jangan Takut Hadapi Perubahan
Maximus juga mengingatkan mahasiswa agar tidak melihat perkembangan teknologi dan ketidakpastian sebagai sesuatu yang harus ditakuti.
Menurutnya, ketidakpastian justru membuka ruang bagi munculnya berbagai peluang baru.
Termasuk melalui perkembangan AI yang saat ini telah membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk belajar, bekerja, berbisnis dan menciptakan karya.
“Jangan melihat ketidakpastian hanya sebagai ancaman. Kita harus mengambil sisi positifnya. Ketidakpastian justru membuka ruang bagi kita untuk melakukan sesuatu yang baru,” ujarnya.
Ia meminta mahasiswa memanfaatkan masa kuliah untuk memperkuat kompetensi, membangun jaringan, membaca, berdiskusi, mengikuti perkembangan teknologi dan mencoba berbagai hal baru.
Sebab, persaingan setelah lulus dari perguruan tinggi akan semakin besar.
Mahasiswa juga didorong tidak hanya mempersiapkan diri sebagai pencari kerja, tetapi memiliki kemampuan menjadi pencipta peluang, penggerak ekonomi serta pemberi solusi bagi persoalan di lingkungan sekitarnya.
“Mahasiswa di Kalimantan Utara pun memiliki kesempatan untuk belajar, membangun bisnis, menciptakan karya, dan berkolaborasi dengan siapa saja,” katanya.
Menurut Maximus, teknologi digital membuat seseorang di daerah memiliki kesempatan untuk terhubung dengan dunia yang lebih luas.
Hal yang membedakan, kata dia, adalah kesiapan masing-masing individu dalam memanfaatkan kesempatan tersebut.(SL)


















Discussion about this post