KALTARAUPDATE.COM – Kota Tarakan menghadirkan potret harmoni yang jarang terjadi. Di saat umat Hindu menjalani keheningan Hari Raya Nyepi, umat Islam bersiap menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah. Dua momen sakral ini berjalan beriringan, menghadirkan wajah toleransi yang nyata di tengah masyarakat.
Keheningan menyelimuti Kota Tarakan pada Kamis (19/3/2026), saat umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian. Tidak ada aktivitas, tidak ada keramaian, semua larut dalam refleksi diri.
Namun di balik suasana sunyi itu, denyut kehidupan umat Islam tetap berjalan dalam koridor saling menghormati. Menjelang Hari Raya Idul Fitri yang jatuh keesokan harinya, umat Muslim menahan diri untuk tidak menimbulkan aktivitas yang berpotensi mengganggu kekhusyukan Nyepi.
Momentum ini menjadi gambaran nyata bagaimana toleransi tidak sekadar slogan, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tarakan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Tarakan, I Gusti Ngurah Arnata sebelumnya menjelaskan bahwa Nyepi merupakan momen penyucian diri dan alam semesta, yang dijalankan melalui pengendalian diri secara total.
Sementara itu, Wakil Ketua Hindu Tarakan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), I Nengah Pariana menegaskan bahwa tidak ada benturan antara Nyepi dan Idul Fitri tahun ini.
Menurutnya, justru kondisi ini menjadi ruang pembelajaran bagi seluruh masyarakat tentang arti hidup berdampingan di tengah perbedaan.
“Ini justru indah. Dalam satu waktu, ada yang beribadah dalam keheningan, ada juga yang bersiap menyambut kemenangan. Semua berjalan saling menghormati,” ujarnya.
Di lapangan, situasi berlangsung kondusif. Tidak terlihat adanya gesekan ataupun gangguan, baik saat umat Hindu menjalankan rangkaian Nyepi maupun saat umat Islam mempersiapkan Idul Fitri.
Bahkan, masyarakat secara sadar menjaga sikap dan aktivitasnya. Umat Muslim menyesuaikan kegiatan, sementara umat Hindu juga memahami dinamika menjelang Lebaran.
Tema Nyepi tahun ini, Basu Dewa Umtumbakam: Satu Dunia Satu Keluarga, seakan benar-benar tercermin di Tarakan.
Makna bahwa seluruh manusia adalah satu keluarga besar di dunia terlihat nyata dalam sikap saling menghargai antarumat beragama.
Bagi warga Tarakan, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.
Di tengah isu-isu perbedaan yang sempat ramai di media sosial, Tarakan justru menunjukkan sebaliknya. Tidak ada konflik, yang ada justru kebersamaan dalam perbedaan.
Momen ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa toleransi tidak harus menunggu peristiwa besar. Ia hadir dari hal sederhana: saling memahami, saling menahan diri, dan saling menghormati.
Saat sebagian memilih hening dalam perenungan, sebagian lainnya bersiap menyambut kemenangan. Namun keduanya bertemu dalam satu nilai yang sama: menjaga harmoni.
Di Tarakan, sunyi Nyepi dan semarak Lebaran bukanlah dua hal yang bertabrakan, melainkan berjalan berdampingan dalam bingkai toleransi. (*)
















Discussion about this post