KALTARAUPDATE.COM – Tak hanya dari sisi pengguna, pertumbuhan merchant QRIS di Kalimantan Utara juga mencatatkan lonjakan signifikan sepanjang 2025.
Berdasarkan data BI, jumlah merchant QRIS meningkat 18,3 persen, dari 95.369 merchant pada 2024 menjadi 112.826 merchant pada 2025.
Ini dipaparkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik.
Dalam pemetaan berbasis kepadatan (density) merchant terhadap wilayah, Kota Tarakan menjadi daerah dengan kepadatan merchant QRIS tertinggi, disusul Malinau dan Bulungan.
“Pemetaan density ini penting untuk melihat wilayah mana yang peluang digitalisasi merchant-nya paling besar,” kata Hasiando.
Pertumbuhan merchant QRIS di Kalimantan Utara menunjukkan tren yang terus meningkat sepanjang periode 2023 hingga 2025, seiring semakin meluasnya adopsi sistem pembayaran digital di kalangan pelaku usaha.
Data Bank Indonesia mencatat, jumlah merchant QRIS di Kaltara bertambah signifikan dari 78.116 merchant pada 2023, meningkat menjadi 95.369 merchant pada 2024, dan kembali naik menjadi 112.826 merchant pada 2025.
Secara tahunan, laju pertumbuhan merchant QRIS mengalami dinamika. Pada 2023, pertumbuhan merchant tercatat sangat tinggi hingga 107,8 persen, mencerminkan fase akselerasi awal digitalisasi pembayaran.
Memasuki 2024, pertumbuhan melandai menjadi 22,1 persen, dan kembali melambat pada 2025 dengan pertumbuhan 18,3 persen year on year (YoY). Meski melambat, Bank Indonesia menilai tren ini tetap sehat karena jumlah merchant terus bertambah secara konsisten setiap tahun.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, menjelaskan bahwa perlambatan pertumbuhan merupakan hal yang wajar seiring semakin besarnya basis merchant yang telah menggunakan QRIS.
Menurutnya, kondisi ini justru menunjukkan bahwa QRIS telah masuk ke fase adopsi yang lebih matang di Kalimantan Utara.
“Pertumbuhan merchant tetap positif meskipun persentasenya melandai. Ini menandakan semakin banyak pelaku usaha yang sudah masuk ke ekosistem QRIS, terutama UMKM,” ujar Hasiando.
Dari sisi sebaran wilayah, Kota Tarakan menjadi daerah dengan jumlah merchant QRIS terbanyak, yakni mencapai 45.070 merchant, sekaligus memiliki tingkat kepadatan merchant tertinggi dibandingkan wilayah lain.
Kepadatan merchant QRIS di Tarakan tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan kabupaten lain, seiring karakter wilayah perkotaan yang padat aktivitas ekonomi.
Sementara itu, Kabupaten Bulungan mencatat sekitar 27.136 merchant disusul Kabupaten Nunukan dengan 28.017 merchant.
Adapun Kabupaten Malinau memiliki 9.532 merchant, dan Kabupaten Tana Tidung sebanyak 3.074 merchant.
Dari sisi kepadatan merchant terhadap luas wilayah, daerah kabupaten masih menunjukkan kepadatan yang relatif rendah, sehingga dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan QRIS ke depan.
Bank Indonesia menilai peta kepadatan merchant ini menjadi dasar dalam menentukan wilayah prioritas digitalisasi.
Wilayah dengan kepadatan rendah akan terus didorong melalui edukasi, pendampingan UMKM, serta perluasan akses sistem pembayaran digital agar pertumbuhan merchant QRIS semakin merata di seluruh Kalimantan Utara. (SL)

















Discussion about this post